kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45992,69   1,09   0.11%
  • EMAS1.132.000 -0,26%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Aksi Merger dan Akuisisi di Jepang Naik Paling Tinggi


Kamis, 05 Oktober 2023 / 23:17 WIB
Aksi Merger dan Akuisisi di Jepang Naik Paling Tinggi
ILUSTRASI. Nilai total transaksi merger dan akuisisi melibatkan perusahaan Jepang tumbuh 14% secara tahunan menjadi US$ 111 miliar


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Aksi merger dan akuisisi di Jepang paling tinggi dibandingkan dengan negara lain di dunia pada tahun ini. Ini berkat meningkatnya biaya, aturan tata kelola yang lebih ketat, serta tekanan para pemegang saham yang memaksa perusahaan mengeksplorasi opsi-opsi strategis.

Nilai total transaksi merger dan akuisisi yang melibatkan perusahaan Jepang tumbuh 14% secara tahunan menjadi US$ 111 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun 2023. Ini menjadikan negara ini sebagai satu-satunya pasar besar di dunia yang mencatat pertumbuhan, menurut data yang dikumpulkan LSEG.

Baca Juga: Rencana Akuisisi Microsoft pada Activision Dapat Jalan dari Otoritas Inggris

Momentum ini diperkirakan terus berlanjut dalam jangka pendek. Ini seiring rencana restrukturisasi, pemisahan dan pembelian manajemen perusahaan. Jepang menjadi tempat yang disukai perusahaan ekuitas global mencari peluang baru. 

"Pasar saham Jepang berkinerja baik dan yang menguntungkan bagi pendiri dan pemilik untuk menjual," kata  David Gross-Loh, Managing Partner Bain Capital Asia, seperti ditulis Reuters.

Gross Loh menjelaskan, dalam enam sampai 12 bulan ke depan, masih ada peluang kesepakatan senilai miliaran dollar AS. Di antaranya ada aksi privatisasi dengan nilai miliaran dollar AS. Kesepakatan ini termasuk keputusan pembelian Toshiba dan JSR yang memilih privatisasi dengan nilai lebih dari US$ 20 miliar. Alhasil, aksi merger dan akuisisi Jepang melonjak 67% ke level paling tinggi. 

Para bankir menambahkan, semenjak  bursa Tokyo mengeluarkan aturan agar perusahaan efisiensi jika harga saham bergerak di bawah nilai buku, membuat pemilik perusahaan melakukan langkah perubahan, termasuk merger dan akuisisi. 

Faktor lain, menurut Shinsuke Tsunoda, senior managing director dan veteran M&A banker Nomura Securities, meningkatnya inflasi dan tekanan margin membuat perusahaan lebih terbuka melakukan tindakan drastis termasuk merger. Pendorong lain juga dari melemahnya yen dan rendahnya bunga di Jepang. 

Baca Juga: Akuisisi Terbesar, Cisco Akan Beli Splunk Seharga US$ 28 Miliar




TERBARU

[X]
×