kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Alan Trefler sudah menjajal dunia bisnis sejak usia muda (1)


Rabu, 12 Juni 2019 / 16:17 WIB

Alan Trefler sudah menjajal dunia bisnis sejak usia muda (1)


Pendiri sekaligus pemimpin perusahaan penyedia perangkat lunak Amerika Serikat (AS) yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, Alan Trefler dikenal sebagai sosok pemimpin yang terampil dan jeli dalam mengambil keputusan. Sosok yang sudah dikenal di bidang digital dan manajemen bisnis melalui korporasi bertajuk Pegasystem, tercatat sebagai orang terkaya di dunia urutan 1.008 versi Forbes dengan total kekayaan menembus US$ 2,8 miliar.

Perusahaan yang membawa nama Alan Trefler menjadi salah satu orang terkaya di dunia ini ia dirikan saat masih dalam usia muda, yaitu 27 tahun, tepatnya pada tahun 1983. Pegasystem mulai mendapatkan nama di kancah domestik dan internasional ketika pertama kali melantai di bursa pada tahun 1996. Dimulai dari perusahaan kecil, Pegasystem kini memiliki pendapatan lebih dari US$ 890 juga per tahun dan mampu mempekerjakan lebih dari 4.600 karyawan. Jaringannya sudah tersebar di lebih dari 30 cabang global di seluruh dunia.

Kegigihannya dalam mencari peruntungan sudah muncul sejak masih belia. Karier dalam berbisnis dimulai kala Alan bekerja bersama dengan ayahnya di sebuah bisnis keluarga. Ayahnya merupakan salah satu korban yang selamat dari kekejaman Perang Dunia II dan pindah ke AS dari Eropa. Di negeri Paman Sam ini, ayahnya memulai bisnis keluarga bernama Trefler & Sons Antique Restoring, yang memberikan jasa restorasi dan kebutuhan perusahaan.

Dalam sebuah wawancaranya dengan New York Times, Alan mengatakan, ayahnya selalu memberikan tugas yang berat kepadanya. Salah satunya adalah menjadi koordinator dalam setiap proyek pengerjaan. Walau mulanya berat, tugas inilah yang menjadikannya sosok tangguh dan berpengalaman sejak masih muda. Di sisi lain, pikirannya menjadi lebih luas lantaran bergaul dengan orang yang memiliki wawasan dan pengalaman lebih banyak dibandingkan dirinya. Pengalaman di karier formal, bermula setelah lulus dari bangku kuliah.

Kala itu, ia berhasil menjadi pemimpin tim di sebuah proyek untuk pengadaan layanan di Citibank. Di sini salah satu tantangan tersulit dalam kariernya. Alan harus memimpin tim dengan pengalaman yang sangat minim dan di bawah tekanan.

Ia bahkan menyebut pengalaman tersebut sebagai hal yang membuatnya trauma dalam berkarier. Namun, berkat kerja kerasnya, proyek tersebut dapat berjalan lancar sesuai rencana.


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Video Pilihan


Close [X]
×