Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - KYIV. Pertempuran sengit masih berlangsung di sekitar Kota Pokrovsk, Ukraina timur, seiring upaya Rusia menekan pertahanan Kyiv untuk merebut wilayah strategis tersebut.
Militer Ukraina menyebut pasukan Rusia terus melancarkan serangan guna menuntaskan kampanye berbulan-bulan untuk menguasai Pokrovsk, yang menjadi simpul penting jalur logistik dan kereta api di wilayah Donetsk.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina pada Senin (9/2/2026) menyatakan pasukannya masih menguasai bagian utara Pokrovsk, kota yang sebelum perang berpenduduk sekitar 60.000 jiwa.
Ukraina juga masih mempertahankan kota kecil Myrnohrad yang berada di dekatnya, meski tekanan Rusia terus meningkat.
Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina, Lima Tewas dan Infrastruktur Energi Rusak
Pokrovsk telah menjadi medan pertempuran sengit sejak tahun lalu. Jika kota ini jatuh sepenuhnya, hal tersebut akan menjadi kemenangan militer terbesar Rusia sejak merebut Avdiivka pada awal 2024.
Moskow sebelumnya mengklaim telah menguasai Pokrovsk pada akhir tahun lalu, namun klaim itu dibantah oleh Kyiv.
Di sepanjang garis depan sepanjang sekitar 1.200 kilometer, Ukraina menghadapi kesulitan menahan laju perlahan pasukan Rusia.
Situasi ini terjadi di tengah tekanan dari Amerika Serikat agar Ukraina membuka jalan menuju perundingan damai untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Korps Reaksi Cepat ke-7 Ukraina, yang mengoordinasikan pertahanan di wilayah tersebut, menyebut Rusia memanfaatkan lemahnya pertahanan udara Ukraina.
Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina, Kantor UE dan Inggris Rusak, 23 Tewas di Kyiv
Serangan dilakukan menggunakan bom berpemandu, serta dengan menguasai posisi strategis di dataran tinggi dan sisi-sisi kota berkat keunggulan jumlah personel.
Peneliti militer independen Ukraina dari kelompok pemantau DeepState melaporkan bahwa infanteri Rusia telah bergerak masuk ke bagian utara Pokrovsk dan berupaya mendorong ke arah Desa Hryshyne.
Peta yang mereka rilis menunjukkan sebagian besar Pokrovsk dan wilayah Myrnohrad berada di bawah kendali Rusia. DeepState menyebut pertempuran saat ini sebagai pertempuran terakhir untuk dua kota tersebut.
Hampir empat tahun sejak invasi skala penuh dimulai pada 24 Februari 2022, Rusia kini menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Krimea serta sebagian wilayah timur yang telah diduduki sejak sebelum perang.
Namun, Rusia baru menguasai sekitar 1,3% wilayah tambahan Ukraina sejak awal 2023, meski serangan udara intensifnya telah menyebabkan kerusakan besar pada jaringan listrik nasional Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Rusia Semakin Dekat, Sejumlah Warga Ukraina Menolak untuk Pergi
Dalam perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat, Rusia menuntut Ukraina menyerahkan sisa sekitar 20% wilayah industri Donetsk yang belum berhasil direbut Moskow. Tuntutan ini ditolak tegas oleh Kyiv.
Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Ukraina menilai penyerahan wilayah Donetsk yang mencakup kota-kota pertahanan kuat seperti Sloviansk dan Kramatorsk tidak dapat diterima sebagai imbalan perdamaian.
Korps Reaksi Cepat ke-7 menilai, meski tekanan terus berlanjut, penguasaan penuh wilayah Donetsk oleh Rusia masih akan memakan waktu lama.
Mereka memperkirakan pertempuran untuk kawasan aglomerasi Sloviansk, Kramatorsk dapat berlangsung hingga tiga tahun dan menelan kerugian besar di pihak pasukan Rusia.













