kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Nasib Dolar AS: China & BRIC Tak Lagi Minati US Treasuries, Mengapa Begitu?


Selasa, 10 Februari 2026 / 04:36 WIB
Nasib Dolar AS: China & BRIC Tak Lagi Minati US Treasuries, Mengapa Begitu?
ILUSTRASI. Diversifikasi dari dolar AS menguat. Pelajari alasan di balik keputusan negara-negara BRIC mengurangi kepemilikan US Treasuries. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - China tampaknya mulai mengurangi eksposur terhadap utang Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap terlalu besarnya ketergantungan pada aset AS.

Mengutip Fotune, dalam pemerintahan Trump periode kedua, perhatian besar tertuju pada sikap investor asing terhadap aset Amerika, terutama surat utang pemerintah AS atau US Treasuries yang selama ini dianggap sebagai aset aman (safe haven).

Bulan lalu, Deutsche Bank sempat menjadi sorotan setelah salah satu analisnya menyebut bahwa investor asing bisa memanfaatkan kepemilikan obligasi dan saham AS sebagai alat tekanan terhadap Gedung Putih, menyusul isu kedaulatan Greenland. 

Meski Menteri Keuangan AS Scott Bessent menepis relevansi kepemilikan Denmark atas utang AS, Presiden Donald Trump sempat melunakkan retorika tarif setelah pasar obligasi menunjukkan gejolak.

Baca Juga: Investor Waspada! Kemenangan Takaichi Guncang Pasar, Pajak Konsumsi Jadi Taruhan

Kini, laporan terbaru menyebut bahwa regulator China meminta bank-bank di negaranya untuk membatasi kepemilikan US Treasuries. Bloomberg melaporkan, regulator China menyarankan lembaga keuangan agar tidak menyimpan terlalu banyak surat utang AS, dengan alasan volatilitas dan risiko keamanan.

Ekonom UBS, Paul Donovan, menilai laporan tersebut patut dicermati meski tidak mencakup kepemilikan resmi pemerintah China. Ia mengatakan bank-bank China bukan pemain utama di pasar obligasi AS. Namun, sinyal bahwa investor internasional mulai meninjau ulang strategi investasi mereka terhadap US Treasuries mulai menarik perhatian pasar.

China sendiri saat ini merupakan pemegang surat utang AS terbesar ketiga di dunia.

Tekanan terhadap dolar AS juga semakin terasa. Kepala pasar global ING, Chris Turner, mencatat bahwa China daratan dan Hong Kong secara total memegang sekitar US$ 938 miliar US Treasuries per November lalu. Menurutnya, komentar semacam ini muncul di saat yang sensitif bagi dolar, ketika tema diversifikasi dari dolar semakin menguat.

Meski begitu, China bukan negara yang paling berpotensi mengguncang pasar obligasi AS. Jepang, misalnya, memiliki hampir dua kali lipat kepemilikan Treasuries dibanding China. Inggris juga tercatat memegang sekitar US$ 888 miliar utang AS.

Baca Juga: Prediksi Bitcoin Februari 2026: Stabil di US$75.000, Pulih Setelah Penurunan Tajam




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×