Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Namun, laporan ini memperkuat tren di negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) pada era Trump kedua, yakni kecenderungan mengurangi atau tidak menambah kepemilikan utang AS. Data terbaru hingga November 2025 menunjukkan kepemilikan negara-negara ini cenderung menurun.
Brasil, misalnya, menurunkan kepemilikan Treasuries dari US$ 229 miliar pada November 2024 menjadi US$ 168 miliar setahun kemudian. India juga memangkas kepemilikan dari US$ 234 miliar menjadi US$ 186,5 miliar.
China mengikuti pola serupa, meski sempat naik. Pada November 2024, China memegang US$ 767 miliar, meningkat hingga lebih dari US$ 900 miliar pada Agustus 2025, lalu turun kembali menjadi sekitar US$ 888,5 miliar per November 2025.
Turner sebelumnya menyebut negara-negara BRIC secara perlahan “meninggalkan pasar Treasuries.” Namun, ia menilai penurunan ini lebih disebabkan oleh faktor lindung nilai (hedging) dan kebijakan nilai tukar, bukan semata-mata aksi jual besar-besaran.
Tonton: Moody’s Pangkas Peringkat Kredit 19 Perusahaan, Mayoritas BUMN
Investor Lebih Memilih Lindung Nilai, Bukan Jual Besar-Besaran
Menurut CEO Oxford Economics, Innes McFee, belum ada bukti kuat bahwa investor asing menggunakan aset AS sebagai alat tekanan politik terhadap Washington.
Ia menegaskan bahwa tidak terlihat arus keluar modal besar dari aset AS. Sebaliknya, dunia justru semakin terekspos terhadap aset Amerika, terutama karena dominasi saham teknologi besar dan tren kecerdasan buatan (AI).
Banyak investor global, termasuk dana pensiun, memilih tetap berinvestasi di AS, tetapi meningkatkan strategi lindung nilai untuk mengurangi risiko nilai tukar. Inilah yang menjelaskan mengapa dolar bisa melemah tanpa diikuti arus keluar modal besar.
McFee juga meragukan narasi bahwa China akan “mempersenjatai” kepemilikan surat utang AS sebagai senjata geopolitik. Menurutnya, klaim tersebut lebih bersifat politis daripada berdasarkan bukti nyata.













