Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China tampaknya mulai mengurangi eksposur terhadap utang Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap terlalu besarnya ketergantungan pada aset AS.
Mengutip Fotune, dalam pemerintahan Trump periode kedua, perhatian besar tertuju pada sikap investor asing terhadap aset Amerika, terutama surat utang pemerintah AS atau US Treasuries yang selama ini dianggap sebagai aset aman (safe haven).
Bulan lalu, Deutsche Bank sempat menjadi sorotan setelah salah satu analisnya menyebut bahwa investor asing bisa memanfaatkan kepemilikan obligasi dan saham AS sebagai alat tekanan terhadap Gedung Putih, menyusul isu kedaulatan Greenland.
Meski Menteri Keuangan AS Scott Bessent menepis relevansi kepemilikan Denmark atas utang AS, Presiden Donald Trump sempat melunakkan retorika tarif setelah pasar obligasi menunjukkan gejolak.
Baca Juga: Investor Waspada! Kemenangan Takaichi Guncang Pasar, Pajak Konsumsi Jadi Taruhan
Kini, laporan terbaru menyebut bahwa regulator China meminta bank-bank di negaranya untuk membatasi kepemilikan US Treasuries. Bloomberg melaporkan, regulator China menyarankan lembaga keuangan agar tidak menyimpan terlalu banyak surat utang AS, dengan alasan volatilitas dan risiko keamanan.
Ekonom UBS, Paul Donovan, menilai laporan tersebut patut dicermati meski tidak mencakup kepemilikan resmi pemerintah China. Ia mengatakan bank-bank China bukan pemain utama di pasar obligasi AS. Namun, sinyal bahwa investor internasional mulai meninjau ulang strategi investasi mereka terhadap US Treasuries mulai menarik perhatian pasar.
China sendiri saat ini merupakan pemegang surat utang AS terbesar ketiga di dunia.
Tekanan terhadap dolar AS juga semakin terasa. Kepala pasar global ING, Chris Turner, mencatat bahwa China daratan dan Hong Kong secara total memegang sekitar US$ 938 miliar US Treasuries per November lalu. Menurutnya, komentar semacam ini muncul di saat yang sensitif bagi dolar, ketika tema diversifikasi dari dolar semakin menguat.
Meski begitu, China bukan negara yang paling berpotensi mengguncang pasar obligasi AS. Jepang, misalnya, memiliki hampir dua kali lipat kepemilikan Treasuries dibanding China. Inggris juga tercatat memegang sekitar US$ 888 miliar utang AS.
Baca Juga: Prediksi Bitcoin Februari 2026: Stabil di US$75.000, Pulih Setelah Penurunan Tajam
Namun, laporan ini memperkuat tren di negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) pada era Trump kedua, yakni kecenderungan mengurangi atau tidak menambah kepemilikan utang AS. Data terbaru hingga November 2025 menunjukkan kepemilikan negara-negara ini cenderung menurun.
Brasil, misalnya, menurunkan kepemilikan Treasuries dari US$ 229 miliar pada November 2024 menjadi US$ 168 miliar setahun kemudian. India juga memangkas kepemilikan dari US$ 234 miliar menjadi US$ 186,5 miliar.
China mengikuti pola serupa, meski sempat naik. Pada November 2024, China memegang US$ 767 miliar, meningkat hingga lebih dari US$ 900 miliar pada Agustus 2025, lalu turun kembali menjadi sekitar US$ 888,5 miliar per November 2025.
Turner sebelumnya menyebut negara-negara BRIC secara perlahan “meninggalkan pasar Treasuries.” Namun, ia menilai penurunan ini lebih disebabkan oleh faktor lindung nilai (hedging) dan kebijakan nilai tukar, bukan semata-mata aksi jual besar-besaran.
Tonton: Moody’s Pangkas Peringkat Kredit 19 Perusahaan, Mayoritas BUMN
Investor Lebih Memilih Lindung Nilai, Bukan Jual Besar-Besaran
Menurut CEO Oxford Economics, Innes McFee, belum ada bukti kuat bahwa investor asing menggunakan aset AS sebagai alat tekanan politik terhadap Washington.
Ia menegaskan bahwa tidak terlihat arus keluar modal besar dari aset AS. Sebaliknya, dunia justru semakin terekspos terhadap aset Amerika, terutama karena dominasi saham teknologi besar dan tren kecerdasan buatan (AI).
Banyak investor global, termasuk dana pensiun, memilih tetap berinvestasi di AS, tetapi meningkatkan strategi lindung nilai untuk mengurangi risiko nilai tukar. Inilah yang menjelaskan mengapa dolar bisa melemah tanpa diikuti arus keluar modal besar.
McFee juga meragukan narasi bahwa China akan “mempersenjatai” kepemilikan surat utang AS sebagai senjata geopolitik. Menurutnya, klaim tersebut lebih bersifat politis daripada berdasarkan bukti nyata.













