Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pada Rabu (21/1/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana pengenaan tarif terhadap delapan negara Eropa yang sebelumnya ia gunakan sebagai ancaman agar AS bisa menguasai Greenland.
Keputusan ini menjadi pembalikan sikap yang cukup drastis, hanya berselang singkat setelah Trump bersikeras ingin mendapatkan pulau tersebut “beserta seluruh hak, kepemilikan, dan kedaulatannya”.
Associated Press melaporkan, dalam unggahan di media sosialnya, Trump mengatakan ia telah mencapai kesepakatan dengan pimpinan NATO mengenai sebuah “kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan” terkait keamanan kawasan Arktik. Pernyataan ini dinilai berpotensi meredakan ketegangan yang sebelumnya memicu kekhawatiran geopolitik berskala luas.
Trump menambahkan bahwa “pembahasan lanjutan” terkait Greenland juga tengah berlangsung, khususnya menyangkut program pertahanan rudal Golden Dome, yakni sistem pertahanan berlapis senilai US$ 175 miliar yang untuk pertama kalinya akan menempatkan persenjataan AS di luar angkasa.
Dalam wawancara lanjutan dengan CNBC, Trump tidak merinci isi kesepakatan tersebut, namun menyebutnya sebagai “kesepakatan selamanya” dan membanggakan hasilnya. “Sekarang kita akan memiliki keamanan yang bahkan lebih baik dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Naik Rabu (21/1/2026), Brent ke US$ 65,24 dan WTI ke US$ 60,62
Trump kerap mundur dari ancaman tarif
Trump bukan kali pertama melontarkan ancaman tarif lalu menariknya kembali. Pada April lalu, setelah menyatakan akan mengenakan bea impor besar-besaran terhadap banyak negara, yang langsung memicu gejolak negatif di pasar keuangan, Trump akhirnya melunak.
Namun, perubahan sikap kali ini terjadi setelah Trump memanfaatkan pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Pegunungan Alpen, Swiss, untuk menyoroti isu Greenland dan melontarkan ancaman yang nyaris mengguncang NATO, aliansi yang selama puluhan tahun dianggap salah satu yang paling solid sejak era awal Perang Dingin.
Dalam pidatonya, Trump menyebut wilayah yang ia incar sebagai “daerah dingin dengan lokasi yang kurang strategis”. Ia juga mengklaim AS pada dasarnya telah “menyelamatkan Eropa” dalam Perang Dunia II, sembari mengatakan soal NATO: “Ini permintaan yang sangat kecil dibandingkan dengan apa yang telah kami berikan selama puluhan tahun.”
“Kami mungkin tidak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan menggunakan kekuatan dan tekanan berlebihan, yang sejujurnya akan tak terhentikan. Tapi saya tidak akan melakukan itu, oke?” kata Trump. Ia kemudian menambahkan, “Saya tidak harus” dan “saya tidak ingin menggunakan kekuatan.”
Baca Juga: Indonesia dan Beberapa Negara Ini Mendapat Undangan Bergabung Dewan Perdamaian Gaza
Meski demikian, Trump berulang kali menyatakan bahwa meskipun AS akan membela NATO, ia belum yakin aliansi tersebut akan membela Washington jika suatu saat dibutuhkan. Keraguan itulah, menurut Trump, yang turut melatarbelakangi sikap agresifnya terhadap Greenland.
Pernyataan itu mendorong Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte untuk menegaskan, dalam sebuah acara bersama Trump setelah pidato tersebut, bahwa NATO akan berdiri di belakang AS jika diserang.
“Anda bisa yakin, sepenuhnya,” kata Rutte.
Tak lama setelah itu, Trump mengumumkan pembatalan ancaman tarif.
Trump: Demi keamanan nasional AS
Trump beralasan AS membutuhkan Greenland demi kepentingan keamanan nasional, khususnya untuk menghadapi ancaman dari Rusia dan China di kawasan Arktik, meskipun AS sudah memiliki pangkalan militer besar di wilayah tersebut. Ia sebelumnya mengancam akan mengenakan pajak impor tinggi terhadap Denmark dan tujuh sekutu lainnya jika mereka tidak mau bernegosiasi soal pengalihan wilayah semi-otonom tersebut.
Tarif tersebut rencananya dimulai dari 10% bulan depan dan meningkat hingga 25% pada Juni.
Trump dikenal sering meningkatkan tekanan ketika merasa hal itu bisa menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan. Ancaman-ancamannya di Davos bahkan nyaris memecah NATO, yang didirikan oleh negara-negara Eropa, AS, dan Kanada untuk menghadapi Uni Soviet.
Negara-negara anggota NATO lainnya bersikukuh menyatakan Greenland tidak dijual dan tidak bisa direbut dari Denmark, sembari menolak keras ancaman tarif Trump.
Seorang pejabat pemerintah Denmark mengatakan kepada Associated Press setelah pidato Trump bahwa Kopenhagen siap membahas kekhawatiran keamanan AS. Namun pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, menegaskan bahwa “garis merah”, yakni kedaulatan Denmark harus tetap dihormati.
Masih belum jelas bagaimana pembatalan tarif oleh Trump akan memengaruhi posisi tersebut.
Tonton: Rusia Senang AS dan NATO Ribut karena Greenland, Ledek Barat: Aliansi Berakhir!
Pemerintah Greenland minta warga bersiap
Di tengah ketegangan, pemerintah Greenland merespons dengan meminta warganya untuk bersiap menghadapi situasi darurat. Mereka menerbitkan buku panduan berbahasa Inggris dan Greenland tentang langkah-langkah menghadapi krisis, termasuk imbauan agar warga menyimpan cukup makanan, air, bahan bakar, dan perlengkapan untuk bertahan selama lima hari.
“Kami langsung ke toko dan membeli persediaan,” kata Tony Jakobsen, warga ibu kota Greenland, Nuuk, sambil menunjukkan kantong belanja berisi lilin, makanan ringan, dan tisu toilet.
Menurut Jakobsen, retorika Trump terhadap Greenland kemungkinan “hanya ancaman”. “Tapi lebih baik siap daripada tidak siap,” ujarnya.
Sebelum menarik ancamannya, Trump sempat mendesak Denmark dan NATO agar tidak menghalangi, disertai peringatan bernada keras.
“Kami ingin sepotong es demi perlindungan dunia, dan mereka tidak mau memberikannya,” kata Trump. “Anda bisa bilang ya, dan kami akan sangat menghargainya. Atau Anda bisa bilang tidak, dan kami akan mengingatnya.”
Trump juga menyerukan “negosiasi segera” agar AS bisa memperoleh Greenland. Namun saat ditanya soal harga, ia menolak menyebut angka. “Ada harga yang lebih besar, yaitu harga keselamatan dan keamanan nasional, serta keamanan internasional,” katanya.













