kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Investor Legendaris AS: Emas Mulai Gantikan Obligasi AS Sebagai Cadagangan Global


Kamis, 12 Februari 2026 / 20:37 WIB
Investor Legendaris AS: Emas Mulai Gantikan Obligasi AS Sebagai Cadagangan Global
ILUSTRASI. GLOBAL-PRECIOUS/GERMANY GOLD (REUTERS/Angelika Warmuth)


Sumber: Business Insider | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Peran emas sebagai aset lindung nilai global kian menguat. Investor legendaris sekaligus pendiri Greenlight Capital, David Einhorn, menilai emas mulai menggantikan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasurys) sebagai aset cadangan utama bank sentral dunia.

Menurut Einhorn, pergeseran ini dipicu oleh melemahnya kepercayaan terhadap prospek fiskal dan makroekonomi Amerika Serikat. “Emas sedang menjadi aset cadangan, bukan lagi Treasurys,” ujarnya.

Einhorn menyoroti laporan yang menyebutkan China telah meminta perbankannya mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS.

Baca Juga: Invetor Legendaris Ini Ramal Emas & Bitcoin Akan Terbang Sebelum Krisis Baru Meledak

Langkah ini dinilai mencerminkan perubahan strategi cadangan devisa, seiring meningkatnya tensi geopolitik dan persaingan mata uang global.

Di sisi lain, minat bank sentral terhadap emas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data World Gold Council mencatat, bank sentral global memborong sekitar 863 ton emas sepanjang 2025.

Tren ini memperkuat posisi emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Einhorn menyebut ada dua faktor utama yang membuat emas semakin menarik dibandingkan aset berbasis dolar AS.

Pertama, kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang dinilai tidak stabil. Kondisi ini mendorong sejumlah negara mulai menyelesaikan transaksi perdagangan internasional dengan aset selain dolar.

Baca Juga: Investor Lari ke Emas? Yield Obligasi Negara Utama Menanjak!

Kedua, kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang terus membengkak. Einhorn menilai defisit fiskal AS berada pada level yang tidak berkelanjutan.

“Kebijakan fiskal dan moneter AS tidak masuk akal dalam jangka panjang,” tegasnya.

Meski permintaan terhadap US Treasurys dalam beberapa lelang terakhir masih tergolong solid, pasar global semakin dibayangi kekhawatiran menurunnya dominasi keuangan AS.

Isu dedolarisasi mulai menguat sejak 2022, ketika Rusia dan sejumlah negara BRICS mengurangi ketergantungan pada dolar AS menyusul sanksi ekonomi.

Baca Juga: Diversifikasi Portofolio, AllianzGI Sarankan Investasi Emas di Tahun 2026

Sentimen tersebut kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif perdagangan tahun lalu, yang memicu aksi “Sell America” di kalangan investor asing.

Sejak saat itu, minat terhadap aset keras seperti emas meningkat, seiring kekhawatiran nilai mata uang fiat akan terus tergerus.

Bagi Einhorn, kondisi ini mempertegas prospek emas sebagai aset cadangan utama dunia dalam jangka panjang, menggantikan peran yang selama ini dipegang oleh obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Selanjutnya: Jatam Ungkap Pemerintah Masih Pakai Cara Lama Soal Keputusan Tambang Martabe

Menarik Dibaca: Makuku Luncurkan Comfort Fit, Popok Tipis Anti Bocor untuk Anak Aktif Sepanjang Hari




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×