Angka kematian rekor, India akan rekrut ratusan mantan petugas medis militer

Senin, 10 Mei 2021 | 05:44 WIB Sumber: Reuters
Angka kematian rekor, India akan rekrut ratusan mantan petugas medis militer

ILUSTRASI. India akan merekrut ratusan mantan petugas medis militer untuk mendukung sistem perawatan kesehatannya yang kewalahan. REUTERS/Danish Siddiqui


KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India akan merekrut ratusan mantan petugas medis militer untuk mendukung sistem perawatan kesehatannya yang kewalahan. Hal itu diungkapkan Kementerian Pertahanan India pada hari Minggu (9/5/2021), ketika negara itu bergulat dengan rekor infeksi dan kematian Covid-19 di tengah seruan untuk penguncian nasional.

Reuters yang mengutip pernyataan resmi kementrian memberitakan, sekitar 400 petugas medis diharapkan menandatangani kontrak selama maksimal 11 bulan. Dijelaskan pula, dokter militer lainnya juga telah dihubungi untuk konsultasi online.

India memang tengah dilanda tsunami Covid-19. Kasus infeksi dan kematian Covid-19 telah mencapai rekor setiap dua atau tiga hari. Kematian meningkat lebih dari 4.000 untuk hari kedua berturut-turut pada hari Minggu. 

Banyak negara bagian India telah memberlakukan penguncian ketat selama sebulan terakhir. Sementara, negara bagian lain telah mengumumkan pembatasan pergerakan publik dan menutup bioskop, restoran, pub, dan pusat perbelanjaan.

Baca Juga: Waspada! Gelombang Covid-19 yang eksplosif mengancam India dan dunia

Akan tetapi, tekanan kepada Perdana Menteri Narendra Modi terus meningkat agar dia segera mengumumkan penguncian nasional seperti yang terjadi selama gelombang pertama tahun lalu.

Indian Medical Association (IMA) menyerukan penguncian yang lengkap, terencana, dan diumumkan sebelumnya, alih-alih penerapan jam malam sporadis dan pembatasan yang diberlakukan oleh negara bagian selama beberapa hari pada suatu waktu.

Baca Juga: Vaksin Covid-19 Sputnik asal Rusia kini cukup sekali suntik

"IMA heran melihat kelesuan ekstrim dan tindakan tidak pantas dari kementerian kesehatan dalam memerangi krisis gelombang kedua pandemi Covid-19 yang menghancurkan," katanya dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.

Anthony Fauci, penasihat virus korona Gedung Putih, mengatakan pada hari Minggu bahwa dia telah memberi tahu pihak berwenang India bahwa mereka perlu melakukan penutupan.

"Anda harus segera melakukan penutupan. Saya yakin beberapa negara bagian India telah melakukan itu, tetapi Anda perlu memutuskan rantai penularan. Dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menutupnya," kata Fauci di ABC's.

Modi berjuang melawan kritik karena mengizinkan pertemuan besar di festival keagamaan dan mengadakan kampanye pemilihan besar-besaran selama dua bulan terakhir bahkan ketika kasus Covid-19 melonjak.

Mengutip Reuters, Kementerian Kesehatan India melaporkan 4.092 kematian selama 24 jam terakhir, menjadikan jumlah kematian keseluruhan menjadi 242.362. Kasus baru naik 403.738, hanya sedikit lebih rendah dari level rekor dan meningkatkan total sejak awal pandemi menjadi 22,3 juta.

Baca Juga: Oposisi India: Ledakan Covid-19 akan menghancurkan India dan mengancam dunia

India pada hari Sabtu melaporkan jumlah kematian Covid-19 tertinggi dalam satu hari sebanyak 4.187 kasus. Institute for Health Metrics and Evaluation memperkirakan bahwa India akan mengalami 1 juta kematian Covid-19 pada Agustus. 

Para ahli mengatakan, jumlah sebenarnya untuk kasus infeksi dan kematian akibat Covid-19 bisa jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

Menurut data dari portal Co-WIN pemerintah, negara penghasil vaksin terbesar di dunia telah memvaksinasi penuh lebih dari 34,3 juta, atau hanya 2,5%, dari 1,35 miliar populasinya pada hari Minggu. 

Dukungan telah mengalir dari seluruh dunia dalam bentuk tabung oksigen dan konsentrator, ventilator, dan peralatan medis lainnya.

 

Selanjutnya: India dilanda tsunami Covid-19, ekspor batubara ABM Investama diklaim tak terganggu

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru