kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Arab Saudi Pertimbangkan Pakai Yuan Alih-alih Dolar untuk Penjualan Minyak


Rabu, 16 Maret 2022 / 07:20 WIB
Arab Saudi Pertimbangkan Pakai Yuan Alih-alih Dolar untuk Penjualan Minyak
ILUSTRASI. Pejabat Saudi dan China saat ini tengah dalam pembicaraan untuk menjual minyak negara Teluk dalam yuan ketimbang dolar AS. REUTERS/Jason Lee/Illustration


Sumber: Middle East Eye,The Hill | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - RIYADH. Pejabat Saudi dan China saat ini tengah dalam pembicaraan untuk menentukan harga beberapa penjualan minyak negara Teluk dalam yuan daripada dolar atau euro. Hal ini pertama kali dilaporkan The Wall Street Journal pada Selasa (15/3/2022), mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Melansir The Hill, kedua negara telah membahas masalah ini selama enam tahun, tetapi pembicaraan dilaporkan telah meningkat pada tahun 2022. Dilaporkan, Riyadh tidak puas atas negosiasi nuklir Amerika Serikat dengan Iran dan kurangnya dukungan untuk operasi militer Arab Saudi di negara tetangga Yaman.

Masih mengutip WSJ, hampir 80% dari penjualan minyak global dihargai dalam dolar, dan sejak pertengahan 1970-an Saudi secara eksklusif menggunakan dolar untuk perdagangan minyak sebagai bagian dari perjanjian keamanan dengan pemerintah AS.

Pembicaraan tersebut adalah yang terbaru dalam upaya berkelanjutan oleh Beijing, baik untuk membuat mata uangnya dapat diperdagangkan di pasar minyak internasional dan memperkuat hubungannya dengan Saudi secara khusus. China sebelumnya membantu Riyadh dalam pembangunan rudal balistik dan konsultasi tentang tenaga nuklir.

Baca Juga: Pelonggaran Aturan Mengurangi Kelesuan Sektor Properti China Selama Januari-Februari

Sebaliknya, hubungan antara Arab Saudi-AS semakin renggang dalam beberapa tahun terakhir. Putra Mahkota Mohammed bin Salman awalnya menampilkan citra publik sebagai seorang reformis, meliberalisasi kebijakan negara tentang hak-hak perempuan dan peradilan pidana.

Namun, aksi pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di tahun 2018 telah menjadi bencana besar bagi hubungan antara putra mahkota dan  Washington. 

Baca Juga: Separuh Cadangan Devisa Miliknya Beku Akibat Saksi Barat, Rusia Mengandalkan China

Hubungan Saudi-China

Sementara, Middle East Eye memberitakan, saat banyak analis meragukan keinginan China untuk menggantikan AS sebagai penjamin keamanan kawasan, hubungan ekonomi antara Beijing dan Riyadh telah tumbuh.

China adalah mitra dagang terbesar kerajaan, terutama karena pembelian 25% dari semua ekspor minyak Riyadh.

Berdasarkan data China Global Investment Tracker yang dijalankan oleh American Enterprise Institute, Arab Saudi juga merupakan pilar utama dari inisiatif infrastruktur Belt and Road China dan menempati peringkat tiga negara teratas secara global untuk proyek konstruksi China.

Langkah untuk melakukan transaksi minyak dengan China dalam yuan akan menandai perubahan besar untuk pasar minyak, di mana 80% penjualan dilakukan dalam dolar. Semua penjualan Arab Saudi secara eksklusif dilakukan dalam dolar.

Baca Juga: Beijing Wajibkan Bank Sentral China (PBOC) Menyetor Keuntungan Tahun Ini Demi Fiskal

Hal ini akan membantu upaya China untuk meyakinkan lebih banyak negara dan investor internasional untuk bertransaksi dalam mata uangnya.

Dolar AS telah mendominasi sistem keuangan global sebagai alat tukar sejak Perang Dunia Kedua. Selain memungkinkan AS untuk mencetak surat perbendaharaan dan menjual utangnya secara global, supremasi dolar adalah alasan utama mengapa AS mampu menjatuhkan sanksi yang kuat pada negara-negara seperti Rusia dan Iran, memotong mereka dari transaksi keuangan internasional.



TERBARU

[X]
×