Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menerima sebuah proposal untuk mengakhiri konflik yang berpotensi mulai berlaku secepatnya pada Senin (6/4/2026), sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters, hal ini disampaikan oleh sumber yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Menurut sumber tersebut, kerangka untuk mengakhiri permusuhan telah disusun oleh Pakistan dan dibagikan kepada Iran serta AS. Proposal ini mencakup pendekatan dua tahap, yakni gencatan senjata segera diikuti dengan kesepakatan komprehensif.
Baca Juga: China Rilis Panduan E-Commerce Usai Tekanan Uni Eropa soal Produk Berbahaya
“Semua elemen harus disepakati hari ini,” ujar sumber tersebut.
Ia menambahkan bahwa kesepahaman awal akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) yang difinalisasi secara elektronik melalui Pakistan, yang menjadi satu-satunya jalur komunikasi dalam pembicaraan ini.
Sebelumnya, laporan Axios menyebutkan bahwa AS, Iran, dan mediator regional tengah membahas kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari sebagai bagian dari kesepakatan dua fase yang dapat mengarah pada berakhirnya perang secara permanen.
Sumber Reuters juga mengungkapkan bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir telah berkomunikasi intensif sepanjang malam dengan Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Dalam proposal tersebut, gencatan senjata akan segera diberlakukan dan diikuti pembukaan kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: UEA: Akses Selat Hormuz Harus Dijamin dalam Kesepakatan AS-Iran
Selanjutnya, akan diberikan waktu sekitar 15 hingga 20 hari untuk merampungkan kesepakatan yang lebih luas.
Kesepakatan yang sementara disebut sebagai “Islamabad Accord” itu juga mencakup kerangka kerja regional terkait pengelolaan Selat Hormuz, dengan rencana perundingan tatap muka lanjutan di Islamabad.
Namun hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS maupun Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan juga menolak memberikan komentar.
Sebelumnya, pejabat Iran menyatakan bahwa Teheran menginginkan gencatan senjata permanen dengan jaminan tidak akan kembali diserang oleh AS dan Israel.
Iran juga diketahui telah menerima pesan dari sejumlah mediator, termasuk Pakistan, Turki, dan Mesir.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Masih Naik, Pasar Tunggu Kejelasan Negosiasi AS-Iran
Kesepakatan akhir nantinya diperkirakan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi dan pencairan aset yang dibekukan.
Meski demikian, dua sumber dari Pakistan menyebut Iran belum memberikan komitmen terhadap proposal tersebut, meskipun upaya diplomasi sipil dan militer terus ditingkatkan.
“Iran belum merespons,” kata salah satu sumber.
Upaya diplomasi terbaru ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang memicu kekhawatiran gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak global.
Baca Juga: AirAsia X Tetap Komit Buka Hub di Bahrain Meski Konflik Timur Tengah Memanas
Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir juga terus menekan agar konflik segera diakhiri, seraya memperingatkan konsekuensi jika gencatan senjata tidak segera tercapai.
Ketegangan ini turut memicu volatilitas di pasar energi global, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan yang dapat memengaruhi arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz.













