kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

AS ingin delisting perusahaan China, bagaimana pergerakan yuan?


Senin, 30 September 2019 / 09:18 WIB

AS ingin delisting perusahaan China, bagaimana pergerakan yuan?
ILUSTRASI. Uang yuan China

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Mata uang yuan pagi ini, Senin (30/9), tak banyak mengalami perubahan. Sepertinya, investor menahan diri dan ingin melihat terlebih dulu bagaimana pasar finansial China akan bereaksi terhadap berita yang menyatakan bahwa AS mempertimbangkan untuk men-delisting seluruh perusahaan China di bursa saham Amerika.

Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, pagi ini, nilai tukar yuan di pasar offshore tak banyak mengalami perubahan di level 7,1339 yuan per dollar.

Informasi saja, pasar saham China hanya akan beroperasi pada Senin di sepanjang pekan ini menjelang libur panjang Hari Libur Nasional yang akan berlangsung mulai 1-7 Oktober 2019.

Mengingatkan saja, aset-aset berisiko terpukul pada perdagangan Jumat setelah tersebar berita pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan taktik tekanan keuangan baru yang radikal di Beijing, termasuk kemungkinan menghapus perusahaan China dari bursa saham AS.

Baca Juga: Bursa Asia tertekan kabar delisting perusahaan China di bursa AS

Laporan itu memukul kinerja saham perusahaan China yang terdaftar di bursa AS, di mana saham Alibaba Group Holding jatuh 5,15% dan JD.com anjlok 5,95% pada hari Jumat.

Dua sumber Reuters membisikkan, delisting perusahaan-perusahaan China dari bursa saham AS adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk membatasi investasi AS di perusahaan China.

"Sementara China mengalami surplus neraca berjalan dan merupakan negara kreditor bersih, perusahaan-perusahaan China adalah debitur bersih dan bergantung pada modal asing," ujar Koji Fukaya, presiden Kantor Fukaya Consulting seperti yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Perang dagang dengan AS, China ingin resolusi yang tenang dan rasional

"Washington tampaknya berusaha membatasi kegiatan perusahaan-perusahaan China dengan menekan pendanaan mereka," katanya.


Sumber : Reuters
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Video Pilihan

Tag
Terpopuler

Close [X]
×