kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

AS klaim pasar minyak dunia sudah siap untuk menghentikan ekspor minyak Iran


Kamis, 25 April 2019 / 15:04 WIB

AS klaim pasar minyak dunia sudah siap untuk menghentikan ekspor minyak Iran

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pejabat Amerika Serikat menyebut upaya negaranya untuk menekan ekspor minyak Iran ke angka nol mendapat dukungan dari pasar global guna menghindari gangguan terhadap stabilitas harga komoditas tersebut.

"Ada sekitar satu juta barel per hari (bph) ekspor minyak mentah Iran yang masih tersisa. Dan ada banyak pasokan di pasar untuk memudahkan transisi tersebut dan menjaga harga tetap stabil," kata Brian Hook, Perwakilan Khusus AS untuk Iran dan Penasihat Kebijakan Senior Kementerian Luar Negeri AS seperti dikutip Reuters.


Komentar tersebut muncul tiga hari setelah Amerika Serikat menuntut importir segera menghentikan pembelian minyak dari Teheran pada bulan Mei. Atau para importir tersebut harus siap menghadapi sanksi dari AS.

Terlepas dari pasokan yang berlimpah, pengetatan sanksi tersebut mendorong tolok ukur harga minyak global Brent dan West Texas Intermediate (WTI) ke level tertinggi mereka pada tahun ini. 

Asisten Menteri Luar Negeri untuk Sumber Daya Energi AS Frank Fannon menambahkan pasokan minyak global pada saat ini dalam kondisi yang baik. "Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencapai nol pada ekspor minyak Iran," kata Fannon.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menyatakan keyakinannya bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan mengkompensasi kekurangan pasar minyak dunia. Di sisi yang lain, produksi minyak mentah juga mengalami lonjakan di Amerika Serikat dengan mencapai rekor 12,2 juta barel per hari pada tahun ini.

Amerika Serikat memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran pada November lalu. Meski pada awalnya AS masih mengizinkan delapan negara pembeli terbesar dari minyak Iran untuk melakukan impor secara terbatas selama enam bulan. 

Pembeli minyak terbesar Iran sendiri di antaranya adalah China, India, Korea Selatan, Jepang, dan Turki. Di mana China adalah importir minyak Iran terbesar, dan pihak juga Beijing telah mengkritik langkah AS untuk memberlakukan kembali sanksi.

Sementara itu Korea Selatan yang merupakan salah satu sekutu AS juga mengimpor minyak Iran dengan jumlah cukup besar. Terutama untuk kebutuhan industri petrokimia di negara tersebut. Fannon mengatakan pemerintah AS akan bekerja sama dengan Korea Selatan untuk memastikan pasokan untuk fasilitas petrokimia akan tetap terjaga.


Sumber : Reuters
Editor: Tendi

Video Pilihan


Close [X]
×