kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.020   46,00   0,27%
  • IDX 7.029   -108,24   -1,52%
  • KOMPAS100 971   -17,55   -1,77%
  • LQ45 716   -12,73   -1,75%
  • ISSI 245   -4,81   -1,93%
  • IDX30 387   -4,53   -1,16%
  • IDXHIDIV20 484   -2,95   -0,61%
  • IDX80 109   -2,12   -1,90%
  • IDXV30 132   0,03   0,03%
  • IDXQ30 126   -1,03   -0,81%

Tolak Permintaan AS, Jepang Belum Berencana Kirim Misi Pengawalan ke Selat Hormuz


Senin, 16 Maret 2026 / 10:01 WIB
Tolak Permintaan AS, Jepang Belum Berencana Kirim Misi Pengawalan ke Selat Hormuz
ILUSTRASI. PM Sanae Takaichi umumkan Jepang belum berencana kirim misi pengawalan ke Selat Hormuz


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang mengungkapkan tidak memiliki rencana untuk mengirim kapal angkatan laut guna mengawal kapal-kapal di Timur Tengah. Hal itu diungkapkan Perdana Menteri Sanae Takaichi, setelah Presiden AS Donald Trump meminta sekutu untuk melindungi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

"Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum," kata Takaichi kepada parlemen, Senin (16/3/2026).

Seruan Trump dalam unggahan media sosial kepada sekutu AS, termasuk Jepang, untuk membantu melindungi pengiriman minyak dan gas melalui jalur air strategis tersebut menempatkan Tokyo dalam posisi sulit karena meskipun sangat bergantung pada energi Timur Tengah, konstitusinya yang menolak perang membatasi ruang lingkup operasi militer luar negeri yang dapat dilakukannya.

Baca Juga: Bursa Asia Waspada Senin (16/3), Harga Minyak Bergolak karena Ketegangan Hormuz

Angkatan Laut Jepang telah melakukan operasi anti-pembajakan di perairan dekat Timur Tengah, tetapi misi tersebut merupakan operasi kepolisian dan bukan misi tempur melawan Iran. 

Jepang dapat mengerahkan militernya ke luar negeri untuk menanggapi apa yang dianggapnya sebagai ancaman eksistensial bagi negara, tetapi hal itu akan sulit secara politik dan memiliki ambang batas hukum yang tinggi bagi pemerintahan Takaichi untuk dibenarkan.

Takaichi akan melakukan perjalanan ke Washington pada minggu ini untuk melakukan pembicaraan dengan Trump yang menurutnya akan membahas konflik dengan Iran.

"Saya ingin terlibat dalam diskusi yang solid berdasarkan pandangan dan posisi Jepang mengenai perlunya de-eskalasi dini," katanya kepada para anggota parlemen.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×