kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45863,16   -14,36   -1.64%
  • EMAS920.000 -0,86%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

AS mendukung Ukraina untuk bergabung dengan NATO


Jumat, 07 Mei 2021 / 08:35 WIB
AS mendukung Ukraina untuk bergabung dengan NATO
ILUSTRASI. Bendera NATO selama upacara untuk menyambut batalion Jerman yang dikerahkan ke Lituania sebagai bagian dari tindakan pencegahan NATO terhadap Rusia di Rukla, Lituania 7 Februari 2017.

Sumber: Sputnik News | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) menunjukkan dukungan penuhanya kepada Ukraina yang memiliki ketertarikan untuk bergabung dengan NATO.

Sejak tahun 2014, pasca kudeta Maidan yang didukung oleh AS dan Uni Eropa, Ukraina mulai menyatakan minatnya untuk bergabung dengan NATO.

Sayangnya niat tersebut terhalang aturan NATO yang menyebutkan bahwa negara-negara dengan sengketa teritorial dengan tetangga, dan mereka yang menderita perang saudara, tidak berhak untuk bergabung sampai masalah diselesaikan.

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre menyampaikan dukungan tersebut kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan ke Danau Charles, Louisiana pada hari Kamis (6/5).

Mewakili Menteri Luar Negeri Antony Blinken yang kini berada di Ukraina, Jean-Pierre mengatakan bahwa AS juga mendukung kedaulatan, integritas teritorial, dan kemerdekaan Ukraina.

Baca Juga: Joe Biden: Militer AS akan tetap hadir di kawasan Indo-Pasifik!

Ia juga menjelaskan bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden juga berkomitmen untuk tetap membuka pintu bagi negara manapun yang ingin bergabung dengan NATO.

"Administrasi Biden berkomitmen untuk memastikan bahwa pintu NATO tetap terbuka bagi para calon ketika mereka siap dan mampu memenuhi komitmen dan kewajiban keanggotaan dan berkontribusi pada keamanan di kawasan Euro-Atlantik," ungkap Jean-Pierre, seperti dikutip Sputnik News.

Pekan lalu, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Eropa dan Eurasia Philip Reeker mengatakan, AS berkomitmen untuk memastikan bahwa negara seperti Ukraina dapat bekerja untuk memenuhi standar sebagai calon anggota NATO.

Pada pertengahan April, duta besar Ukraina untuk Jerman mengatakan bahwa Ukraina mungkin akan menjadi negara bersenjata nuklir lagi jika NATO tidak mengizinkannya bergabung.

Niat Ukraina ini tentunya ditanggapi dengan sinis oleh rivalnya, Rusia. Bulan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO akan mengarah pada eskalasi skala besar dari perang dingin di negara itu.

Selanjutnya: Negara G7 tegur China dan Rusia: Mengacaukan HAM, ekonomi, dan demokrasi




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Maximizing Leadership Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale

[X]
×