AS: Rusia Cari Lebih Banyak Tentara untuk Perang di Ukraina, termasuk Rekrut Tahanan

Selasa, 30 Agustus 2022 | 14:53 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
AS: Rusia Cari Lebih Banyak Tentara untuk Perang di Ukraina, termasuk Rekrut Tahanan

ILUSTRASI. Konvoi lapis baja pasukan Rusia di jalan menuju kota pelabuhan selatan yang terkepung Mariupol, Ukraina, Senin (28/3/2022). REUTERS/Alexander Ermochenko.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Rusia sedang berjuang untuk menemukan lebih banyak tentara untuk berperang di Ukraina, bahkan merekrut tahanan, seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan.

Pejabat itu mencatat keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (25/8) pekan lalu untuk meningkatkan jumlah tentara negeri beruang merah sekitar 10% menjadi 1,15 juta prajurit, mulai Januari tahun depan.

Setelah mengalami kemunduran yang signifikan dan kehilangan pasukan yang besar dalam enam bulan setelah menginvasi Ukraina, Pentagon percaya, "upaya itu tidak mungkin berhasil, karena Rusia secara historis tidak memenuhi target personel dan kekuatan," kata pejabat itu.

"Rusia sudah mulai mencoba untuk memperluas upaya perekrutan," kata pejabat itu kepada wartawan, seperti dikutip Channel News Asia.

Baca Juga: Ukraina Klaim Serangan Terbarunya Berhasil Melemahkan Pertahanan Rusia di Selatan

"Mereka telah melakukan ini sebagian dengan menghilangkan batas usia atas untuk anggota baru, dan juga dengan merekrut tahanan," ungkap pejabat AS itu.

"Banyak dari rekrutan baru ini terlihat lebih tua, tidak layak dan tidak terlatih," imbuh pejabat itu.

Kesimpulan Pentagon adalah setiap rekrutan baru mungkin tidak secara efektif memperluas kekuatan tempur Rusia secara keseluruhan pada akhir tahun, menurut pejabat itu.

Bahkan sebelum perang, angkatan bersenjata Rusia mungkin kekurangan 150.000 personel dari target yang mereka nyatakan sebanyak satu juta prajurit, pejabat itu menambahkan.

Pada awal Agustus lalu, Wakil Menteri Pertahanan AS Colin Kahl memperkirakan, 70.000 hingga 80.000 orang Rusia tewas atau terluka di Ukraina sejak invasi pada 24 Februari.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru