Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis keuangan global 2008 menjadi titik balik bagi banyak mahasiswa ekonomi di dunia. Kegagalan teori ekonomi arus utama membaca krisis memicu kegelisahan di ruang kelas, yang kemudian melahirkan gerakan global bernama Rethinking Economics.
Gerakan ini bermula dari aksi protes mahasiswa Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang keluar dari kelas pengantar ekonomi karena menilai materi yang diajarkan terlalu sempit dan ikut melanggengkan ketimpangan.
Gelombang serupa muncul di Universitas Manchester, Inggris, ketika mahasiswa menilai rumus matematis yang kaku tak mampu menjelaskan krisis nyata yang mereka alami.
Baca Juga: 10 Negara dengan Ekonomi Terbesar di Dunia 2025: AS Memimpin, India Geser Jepang
Keresahan itu menyebar ke berbagai kampus dunia dan berpuncak pada pertemuan perdana Rethinking Economics di London School of Economics (LSE) pada 2013.
Organisasi ini digerakkan mahasiswa dan bertujuan menantang cara ilmu ekonomi diajarkan di perguruan tinggi.
Salah satu pendirinya, Yuan Yang, mengenang pertemuan awal yang berlangsung sederhana namun penuh antusiasme. “Kami kaget, yang datang bukan hanya dari LSE, tapi juga dari kampus lain,” ujarnya.
Gerakan ini mendapat dukungan sejumlah akademisi ternama. Ekonom Ha-Joon Chang menilai dominasi ekonomi neoklasik di kampus telah berlangsung terlalu lama. Ia menyebut pendekatan tunggal itu membatasi cara manusia memahami dunia.
Menurutnya, Rethinking Economics membuka ruang bagi ekonomi yang lebih plural, etis, dan dekat dengan realitas.
Baca Juga: Daftar Penerbangan Ekonomi Terbaik di Dunia, Singapore Airlines Unggul
Sejak berdiri, Rethinking Economics berkembang pesat. Organisasi ini kini memiliki ribuan anggota di lebih dari 40 negara. Tujuannya jelas, mendorong pendidikan ekonomi yang kritis, beragam, sadar sejarah, dan tidak didominasi satu kerangka teori yang diklaim netral.
“Kami ingin ekonomi yang mencerminkan dunia nyata, bukan sekadar model abstrak,” kata Sara Mahdi, penanggung jawab komunikasi Rethinking Economics.
Mahdi menyebut gerakan ini telah mencatat hasil konkret. Sejak 2019, lebih dari 80 kampanye berhasil mendorong perubahan kurikulum di 35 negara, termasuk perombakan program studi inti yang berdampak pada puluhan ribu mahasiswa.
Beberapa contoh perubahan itu antara lain peluncuran program politik, filsafat, dan ekonomi di Goldsmiths University London, program interdisipliner di Universitas Lille, Prancis, hingga program ekonomi dan masyarakat di Universitas Leiden, Belanda.
Di Afrika Selatan, Rethinking Economics tumbuh dari gerakan mahasiswa yang menuntut akses pendidikan lebih adil.
Baca Juga: Arab Saudi Bukan di Posisi 1, Ini 10 Negara dengan Ekonomi Islam Terkuat Dunia 2025
Program officer Rethinking Economics Afrika, Amaarah Garda, menyebut kritik terhadap biaya kuliah berkembang menjadi kritik atas sistem akademik yang masih berwatak kolonial.
“Awalnya kampus menolak berubah, jadi kami menciptakan ruang belajar alternatif,” katanya.
Garda menilai minat mahasiswa terus meningkat karena mereka mencari jawaban atas krisis yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari perang hingga perubahan iklim. “Isu-isu ini terasa semakin mendesak,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi internasional. Profesor ekonomi Universitas Tulsa, Clara Mattei, menilai sistem ekonomi global saat ini menunjukkan ketimpangan ekstrem. Ia menegaskan pentingnya melihat masalah tersebut sebagai persoalan struktural.
“Ekonomi harus memprioritaskan kebutuhan, bukan sekadar keuntungan,” tegasnya.
Baca Juga: BI dan Kemenkeu Bidik Indonesia Peringkat Pertama Keuangan Syariah di Dunia
Sementara itu, profesor Universitas Massachusetts Amherst, Jayati Ghosh, menyebut Rethinking Economics memaksa para ekonom kembali pada pertanyaan mendasar. Meski menghadapi resistensi dari struktur lama, ia menilai gerakan ini membuat kemajuan.
“Ekonomi terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada para ekonom,” katanya.













