Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Kuala Lumpur. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berdampak hingga ke Malaysia. Kasus gangguan kesehatan meningkat akibat asap kebakaran.
Kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia, khususnya Sarawak di Pulau Kalimantan, memburuk hingga mencapai level berbahaya. Kondisi tersebut turut memicu peningkatan kasus penyakit pernapasan dan mengganggu sejumlah aktivitas masyarakat.
Kabut asap dari kebakaran hutan di Indonesia telah menyelimuti Sarawak selama sebagian besar Agustus 2026. Asap bahkan dilaporkan menyebar hingga Semenanjung Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Kondisi tersebut disebut menjadi episode kabut asap terburuk di kawasan tersebut sejak 2015. Kala itu, kebakaran hutan di Indonesia membuat puluhan juta orang terpapar asap beracun dan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengalami gangguan pernapasan.
Pada Selasa (1/9/2026), enam wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara dalam kategori berbahaya dengan indeks di atas 300.
Di Kuching, indeks kualitas udara mencapai 407. Sementara itu, indeks kualitas udara di Serian, kota yang berada dekat perbatasan Kalimantan, mencapai 408.
Tonton: Pengganti Gas Melon 3 Kg? Pemerintah Mulai Uji CNG
Warga Malaysia Tak Melihat Langit Biru Selama Sebulan
Kabut asap yang pekat membuat aktivitas warga Malaysia terganggu. Salah satunya dirasakan Mia Emylia Hassan, warga Kuching yang tinggal bersama dua anaknya.
Perempuan berusia 33 tahun itu mengatakan bau asap sulit dihindari. Jarak pandang dari rumahnya juga menyusut hingga sekitar satu kilometer.
"Udara di sini sangat pengap. Baunya seperti asap, dan semuanya berwarna putih," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (1/9/2026).
"Kami belum melihat langit biru selama lebih dari sebulan," lanjutnya.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan bagi keluarganya karena putrinya yang masih berusia 10 bulan baru saja pulang dari rumah sakit setelah mengalami infeksi paru-paru.
Menurut Mia, kondisi sang putri belum sepenuhnya pulih karena paru-parunya masih berkembang. Bayi tersebut bahkan harus kembali mendapatkan perawatan medis akibat kesulitan bernapas.
"Ini seperti serangan jantung kecil bagi kami setiap kali," ujarnya.
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur Italia Kembali Tertekan, PMI Turun ke Zona Kontraksi
Kasus Asma di Malaysia Melonjak
Dampak kabut asap juga tercermin dari meningkatnya sejumlah penyakit di Malaysia.
Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat kasus asma melonjak menjadi 1.811 kasus selama periode 23-29 Agustus 2026. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 219 kasus pada pekan sebelumnya.
Kasus konjungtivitis juga mengalami peningkatan. Jumlah kasus tercatat sebanyak 720 pada periode yang sama, naik dari 146 kasus pada pekan sebelumnya.
Di Semenanjung Malaysia, kondisi serupa dialami Karen-Michaela Tan, penderita asma yang tinggal di sekitar Kuala Lumpur.
Perempuan berusia 52 tahun tersebut mengaku mengalami mengi dan sesak napas, terutama ketika menaiki tangga.
Ia bahkan membutuhkan dua kali perawatan nebulizer secara berturut-turut untuk meredakan gejala tersebut, disertai pemberian steroid dalam dosis tinggi.
"Para dokter lebih memilih berhati-hati dalam menangani pasien asma, memilih untuk meningkatkan dosis daripada mengambil risiko pasien dirawat di rumah sakit karena sesak napas," katanya.
Untuk mengurangi paparan asap, rumahnya ditutup rapat dan dua alat pembersih udara dioperasikan tanpa henti.
Meski demikian, ia masih mengalami sejumlah keluhan. "Saya masih berjuang mengatasi tenggorokan gatal dan hidung kering meskipun sudah melakukan tindakan-tindakan ini," ungkapnya.
Tonton: Venezuela Bangkit di Peta Energi Dunia?
ASEAN Aktifkan Peringatan Kabut Asap Level Tertinggi
Kabut asap lintas batas ini juga telah mendapatkan perhatian dari ASEAN.
ASEAN mengaktifkan peringatan kabut asap lintas batas Level 3, yang merupakan tingkat tertinggi, untuk wilayah bagian selatan kawasan tersebut.
Peringatan Level 3 menunjukkan adanya risiko tinggi terjadinya kabut asap lintas batas dengan tingkat keparahan yang signifikan.
ASEAN menyebut peningkatan titik api dan kondisi cuaca kering yang berkepanjangan menjadi faktor yang memperburuk situasi. Kondisi cuaca tersebut juga dikaitkan dengan pola El Nino yang semakin intensif.
Dampak kabut asap bahkan membuat Sarawak membatalkan sejumlah perayaan Hari Kemerdekaan yang seharusnya digelar di luar ruangan pada Senin (31/8/2026).
Pejabat setempat juga memperingatkan bahwa pembatasan aktivitas dapat diperluas apabila kualitas udara terus memburuk.
Baca Juga: Pemulihan Makin Kuat, PMI Manufaktur Jerman Tembus Level Tertinggi 51 Bulan
Ratusan Sekolah di Sarawak Ditutup
Sektor pendidikan juga ikut terdampak kabut asap.
Berdasarkan ketentuan Kementerian Pendidikan Malaysia, kegiatan luar ruangan harus dihentikan ketika indeks kualitas udara mencapai 100. Sementara itu, sekolah wajib ditutup apabila indeks mencapai 200.
Pada 20-21 Agustus 2026, hampir 600 sekolah di Kuching dan wilayah sekitarnya ditutup. Kebijakan tersebut berdampak terhadap sekitar 200.000 siswa sekolah dasar dan menengah.
Kemudian pada 28 Agustus 2026, sebanyak 30 sekolah lainnya di Sarawak juga ditutup. Penutupan tersebut membuat lebih dari 4.000 siswa harus tetap belajar dari rumah.
Dengan kualitas udara yang masih berada pada level berbahaya di sejumlah wilayah, masyarakat Malaysia kini menghadapi risiko kesehatan sekaligus gangguan terhadap aktivitas sehari-hari akibat kabut asap lintas batas.
Sumber: https://internasional.kompas.com/read/2026/09/01/192000570/kabut-asap-indonesia-cekik-malaysia-kasus-asma-melonjak-tajam?page=allpage2.














