kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45855,05   -7,39   -0.86%
  • EMAS917.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.15%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bank-bank di Lebanon diterpa krisis: Pekerjaan hilang, pinjaman turun


Sabtu, 19 Juni 2021 / 16:08 WIB
Bank-bank di Lebanon diterpa krisis: Pekerjaan hilang, pinjaman turun
ILUSTRASI. Seorang pekerja membersihkan logo Bank Audi di Beirut, Lebanon, 1 November 2019. Bank-bank di Lebanon diterpa krisis: Pekerjaan hilang, pinjaman turun

Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - BEIRUT. Bank-bank di Lebanon tengah dalam kondisi sulit. Bila sebelumnya, perbankan di Lebanon pernah menjadi penggerak perekonomian dengan menyedot miliaran dolar deposito dari luar negeri, kini kondisinya memprihatinkan.

Bank-bank ini mulai kehilangan staf, pembukuannya menyusut dan berjuang mengejar likuiditas agar tetap bertahan hidup.

Melansir Reuters, Sabtu (19/6), sekitar 3.000 bankir, atau lebih dari 10% tenaga kerja industri perbankan, telah mengundurkan diri atau kehilangan pekerjaan mereka. Hal itu terjadi sejak krisis berkobar pada akhir 2019 dan jumlahnya terus meningkat. Hal itu sebagaimana dikatakan empat bankir senior kepada Reuters.

Para deposan dilaporkan tidak dapat lagi menyimpan sebagian besar tabungan mereka dan pinjaman dari bank-bank swasta telah anjlok. Pada April 2021 tercatat pinjaman bank telah menurun 25% year on year (yoy) menjadi US$ 33 miliar, menurut catatan Bayblos Bank.

Baca Juga: Krisis akibat pandemi mendorong lonjakan angka pekerja anak global

"Sektor ini mati. Tidak lagi meminjamkan, dan tidak menghasilkan keuntungan," kata salah satu bankir yang tidak mau disebutkan namanya.

Bank menghadapi tantangan terbesar sejak perang saudara 1975-1990, konflik yang dengan beberapa tindakan telah membuat investor yang masuk memberi pinjaman sedikit.

Krisis ini telah menyebabkan kerugian industri keperawatan senilai US$ 83 miliar, menurut laporan pemerintah tahun lalu, mengerdilkan output ekonomi 2019 Lebanon sebesar US$ 55 miliar. 

"Krisis di Lebanon pada dasarnya adalah pertama-tama keruntuhan perbankan," kata Toufic Gaspard, seorang ekonom yang telah bekerja sebagai penasihat di IMF dan sebagai penasihat mantan menteri keuangan.

Sektor jasa keuangan di Lebanon, yang pernah menjadi Swiss di Timur Tengah, menyumbang hampir 9% dari produk domestik bruto pada 2018.

Baca Juga: Buru harta wajib pajak di luar negeri, ini yang dilakukan Ditjen Pajak




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Virtual Selling: How to win sales remotely Optimasi alur Pembelian hingga pembayaran

[X]
×