Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga aluminium merosot ke level terendah dalam sepekan pada Jumat (13/2/2026) setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) berpotensi melonggarkan sebagian tarif impor logam. Tekanan juga datang dari aksi ambil untung dan sentimen risk-off di pasar global.
Melansir Reuters, kontrak aluminium tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat turun hingga 2,7% sebelum memangkas kerugian dan ditutup melemah 0,8% di level US$3.075 per ton pada pukul 15.30 GMT.
Harga tersebut menjadi yang terlemah sejak 6 Februari. Sehari sebelumnya, aluminium sempat menyentuh level tertinggi hampir dua pekan akibat kekhawatiran pasokan.
Baca Juga: Trump Berencana Pangkas Sejumlah Tarif Baja dan Aluminium
“Sentimen makro yang cenderung risk-off dan aksi ambil untung terus mengikis reli kuat sejak awal tahun,” ujar Ewa Manthey, analis komoditas ING di London.
“Kabar bahwa AS mungkin akan menggulung kembali sebagian rezim tarif aluminium menambah ketidakpastian terhadap arus perdagangan dan harga.”
Premi yang dibayarkan pembeli aluminium fisik di AS di atas harga LME juga anjlok 6,8% menjadi 93 sen per pon.
Laporan Pelonggaran Tarif
Laporan Financial Times menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mengurangi sebagian tarif baja dan aluminium. Kebijakan tarif hingga 50% tersebut diberlakukan pada Juni tahun lalu.
Baca Juga: Harga LNG Asia Melemah Tipis Jelang Libur Tahun Baru Imlek
Wacana pelonggaran ini dinilai dapat mengubah dinamika pasokan dan harga, terutama di pasar AS yang sebelumnya mencatat premi tinggi akibat pembatasan impor.
Di China, kontrak aluminium paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) turun 1,8% menjadi 23.195 yuan (US$3.355,27) per ton pada penutupan perdagangan siang.
Aktivitas perdagangan juga melambat menjelang libur Tahun Baru Imlek selama sembilan hari, yang membuat SHFE tutup mulai 15 Februari dan kembali buka pada 24 Februari.
Logam Industri Lain Ikut Tertekan
Harga tembaga LME turun 0,3% menjadi US$12.837,50 per ton, menjauh dari rekor tertinggi US$14.527,50 yang dicapai pada 29 Januari.
Permintaan fisik melemah menjelang libur panjang di China, tercermin dari premi tembaga spot di SHFE yang kembali menjadi diskon 60 yuan per ton setelah sempat mencatat premi pekan lalu.
Baca Juga: Inflasi AS Naik Lebih Lambat pada Januari, The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga
Logam lainnya juga melemah:
- Seng turun 1,1% menjadi US$3.336,50 per ton
- Nikel merosot 2,5% menjadi US$16.985
- Timbal turun 0,7% menjadi US$1.963
- Timah anjlok 3,9% menjadi US$47.750
Pelemahan luas di kompleks logam industri mencerminkan kombinasi faktor eksternal, mulai dari ketidakpastian kebijakan perdagangan AS hingga penurunan aktivitas pasar menjelang libur di Asia.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)