kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Inflasi AS Naik Lebih Lambat pada Januari, The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga


Jumat, 13 Februari 2026 / 21:09 WIB
Inflasi AS Naik Lebih Lambat pada Januari, The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga konsumen Amerika Serikat (AS) meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Januari, meski tekanan inflasi inti masih menunjukkan penguatan di awal tahun.

Kombinasi inflasi yang belum sepenuhnya jinak dan pasar tenaga kerja yang stabil dinilai memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga saat ini lebih lama.

Data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) pada Jumat (13/2/2026) menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,2% pada Januari, setelah mencatat kenaikan 0,3% pada Desember.

Baca Juga: AS Bakal Masukkan Alibaba ke Daftar Perusahaan Terkait Militer China

Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan CPI meningkat 0,3%.

Secara tahunan, inflasi tercatat 2,4% dalam 12 bulan hingga Januari, melambat dari 2,7% pada Desember.

Perlambatan ini sebagian besar mencerminkan efek basis, yakni angka tinggi tahun lalu yang kini keluar dari perhitungan.

Inflasi Inti Masih Menguat

Di luar komponen makanan dan energi yang volatil, inflasi inti (core CPI) naik 0,3% pada Januari, setelah meningkat 0,2% pada Desember.

Dalam basis tahunan, inflasi inti tercatat 2,5%, sedikit turun dari 2,6% bulan sebelumnya.

Baca Juga: Perkuat Pertahanan Hadapi Rusia, Inggris Tingkatkan Belanja Rudal Jarak Jauh

Sejumlah ekonom mencatat bahwa setiap awal tahun biasanya terjadi lonjakan harga satu kali (turn-of-the-year price hikes) yang belum sepenuhnya tertangkap dalam penyesuaian musiman BLS.

Selain itu, dampak tarif impor yang luas dari Presiden Donald Trump juga dinilai mulai diteruskan ke harga konsumen.

Dampak ke Kebijakan The Fed

Bank sentral AS, Federal Reserve, menggunakan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebagai acuan target inflasi 2%.

Baik CPI maupun PCE saat ini masih berada di atas target tersebut.

Baca Juga: Bessent: Komite Perbankan Senat Lanjutkan Sidang Konfirmasi Kevin Warsh

Pekan ini, pemerintah AS juga melaporkan pertumbuhan lapangan kerja yang menguat pada Januari, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4% pada Desember.

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi masih cukup solid.

Pada pertemuan terakhir bulan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.

Dengan inflasi yang melambat namun belum sepenuhnya terkendali serta pasar tenaga kerja yang stabil, bank sentral diperkirakan akan menahan suku bunga dalam waktu dekat.

Faktor Risiko ke Depan

Ekonom memperkirakan tekanan inflasi bisa kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: Perundingan Damai Rusia–Ukraina Berlanjut di Jenewa Pekan Depan
Selain dampak tarif impor, pelemahan dolar AS sekitar 7,4% tahun lalu terhadap mata uang mitra dagang utama juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor.

Meski demikian, volatilitas data CPI yang sempat terjadi akibat penutupan pemerintah federal sebelumnya diperkirakan mulai mereda pada laporan Januari ini, sehingga memberi gambaran yang lebih stabil mengenai arah inflasi AS ke depan.

Selanjutnya: Saham Darma Henwa (DEWA) Melonjak Usai Tuntaskan Buyback 1,64 Miliar Saham

Menarik Dibaca: 15 Makanan Diet yang Mengenyangkan untuk Menggantikan Nasi


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×