Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Perbankan China mulai mengalihkan aliran kredit dari sektor properti ke industri teknologi. Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah Beijing yang ingin mempercepat adopsi kecerdasan buatan (AI) dan memperkuat dominasi di sektor-sektor teknologi masa depan.
Reuters (13/3) melaporkan, komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan tahunan National People's Congress, ketika para pemimpin China menjanjikan dukungan kebijakan dan pendanaan besar bagi pengembangan teknologi dan inovasi dalam lima tahun ke depan.
Sejumlah bankir mengatakan kepada Reuters bahwa pembiayaan untuk sektor teknologi kini menjadi prioritas utama penyaluran kredit baru tahun ini. Bank-bank milik negara bahkan mulai meningkatkan pembiayaan untuk industri seperti manufaktur canggih, kecerdasan buatan, hingga bioteknologi.
Beberapa bank juga sedang mengkaji skema pinjaman baru dengan bunga lebih rendah untuk startup teknologi kecil dan mikro. Skema ini diharapkan dapat mempercepat lahirnya perusahaan teknologi domestik di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Seorang manajer kredit di bank joint-stock di provinsi Jiangsu menyebutkan banknya menargetkan pertumbuhan 30% penyaluran kredit baru ke perusahaan teknologi dan inovasi pada 2026. Target tersebut melonjak dari sekitar 20% pada tahun sebelumnya.
Perubahan arah kredit ini sekaligus mencerminkan tekanan yang dihadapi sektor properti China. Data menunjukkan pinjaman outstanding kepada perusahaan teknologi kecil dan menengah mencapai 3,63 triliun yuan pada akhir 2025, naik 19,8% secara tahunan. Pertumbuhan ini jauh melampaui kenaikan kredit secara keseluruhan.
Sebaliknya, kredit sektor properti justru menyusut. Nilai pinjaman real estat turun 1,6% menjadi 51,95 triliun yuan pada akhir tahun lalu. Padahal selama bertahun-tahun sektor ini menjadi tulang punggung neraca perbankan China.
Analis di Gavekal Dragonomics Xiaoxi Zhang menilai, pergeseran tersebut tak lepas dari krisis yang membelit industri properti. Kondisi sektor tersebut dinilai terlalu berat bagi bank untuk terus memperluas pembiayaan.
“Pergeseran ini pada dasarnya dipicu penyesuaian di sektor properti sekaligus dorongan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Baca Juga: Yuan China Menguat ke Level Tertinggi Setahun terhadap Mata Uang Mitra Dagang Utama
Di sisi lain, regulator juga mendorong bank memperbesar porsi pembiayaan teknologi melalui berbagai target penilaian kinerja. Akibatnya, bank-bank mulai berlomba mengembangkan produk kredit yang sesuai dengan karakter perusahaan teknologi.
Bank-bank milik negara seperti China Construction Bank dan Bank of China bahkan telah menyatakan komitmennya untuk mendukung agenda strategis teknologi nasional.
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Perusahaan teknologi—terutama startup—umumnya masih berada pada tahap awal pengembangan bisnis, dengan arus kas operasional negatif dan tingkat kegagalan yang lebih tinggi dibanding sektor tradisional.
Direktur di S&P Global Ratings Ming Tan mengingatkan, sebagian pinjaman teknologi berpotensi menjadi kredit bermasalah, khususnya pada industri yang mengalami kelebihan kapasitas.
Ekonom senior Natixis Gary Ng menambahkan, bahwa banyak startup teknologi juga tidak memiliki jaminan konvensional karena aset mereka sering kali berupa kekayaan intelektual. Hal ini membuat bank lebih sulit menilai kelayakan model bisnis dan potensi pemulihan jika terjadi gagal bayar.
Meski demikian, bagi China, dorongan pembiayaan teknologi menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan struktural. Selain untuk mengejar supremasi teknologi dari Amerika Serikat, Beijing juga berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan demografi dan perlambatan sektor properti.
Dengan kata lain, perbankan China kini tidak hanya menjadi mesin pembiayaan ekonomi, tetapi juga instrumen kebijakan negara dalam perlombaan teknologi global.
Baca Juga: Kereta Penumpang China Menuju Korut, Pertama dalam 6 Tahun, Berangkat dari Beijing













