kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bankir menyebut pemangkasan suku bunga bank sentral Eropa punya efek samping serius


Kamis, 05 September 2019 / 16:18 WIB
Bankir menyebut pemangkasan suku bunga bank sentral Eropa punya efek samping serius
ILUSTRASI. European Central Bank

Sumber: Reuters | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. CEO dari dua bank terbesar Jerman memperingatkan bahwa pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Eropa akan menimbulkan risiko efek samping yang serius. Sementara efek pemangkasan suku bunga bagi geliat ekonomi justru dinilai minim.

Dilansir dari Reuters, pesan keras ini datang seminggu sebelum pertemuan kebijakan ECB di mana para pengambil keputusan condong untuk membuat paket stimulus yang mencakup penurunan suku bunga.

Baca Juga: Mengapa Hong Kong begitu penting bagi China?

CEO Deutsche Bank Christian Sewing saat berbicara pada konferensi perbankan mengatakan bahwa nasabah banknya menyebut bahwa mereka tidak akan berinvestasi lebih banyak jika suku bunga turun sekitar 10 basis poin.

"Pemotongan suku bunga hanya akan menaikkan harga aset secara lebih lanjut", katanya.

Suku bunga yang lebih rendah akan membantu para debitur atau diinvestasikan dalam aset. Tetapi ia menilai mayoritas masyarakat tidak akan mendapat manfaat. 

Sementara CEO Commerzbank Martin Zielke juga memberikan komentar keras terkait potensi penurunan suku bunga. "Saya tidak menganggap ini adalah kebijakan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab," kata Zielke.

Baca Juga: Bank Dunia: Terlalu fokus kurangi CAD, pertumbuhan ekonomi Indonesia lesu

Bank-bank di Jerman dan di seluruh Eropa telah lama mengeluh tentang kebijakan ECB yang mengharuskan bank untuk mengeluarkan uang guna memarkir uang mereka di bank sentral. Pasalnya kebijakan ini telah menekan keuntungan mereka.

Bank-bank di Jerman membayar 2,4 miliar euro kepada bank sentral untuk menahan uang tunai mereka pada tahun 2018.

Pihak parlemen sendiri melakukan penyelidikan terkait kebijakan suku bunga negatif.




TERBARU

Close [X]
×