Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak melemah pada Rabu (18/3/2026), memangkas sebagian kenaikan tajam pada sesi sebelumnya setelah pemerintah Irak dan otoritas Kurdistan mencapai kesepakatan untuk melanjutkan ekspor minyak melalui pelabuhan Ceyhan di Turki.
Kesepakatan ini memberi sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah.
Namun, belum adanya tanda-tanda de-eskalasi konflik Iran membuat harga minyak tetap tinggi, dengan Brent bertahan di atas US$ 100 per barel selama empat sesi terakhir.
Baca Juga: Irak dan Otoritas Kurdi Sepakat Lanjutkan Ekspor Minyak ke Pelabuhan Ceyhan Turki
Setelah melonjak lebih dari 3% pada Selasa, harga minyak Brent turun 67 sen atau 0,65% menjadi US$ 102,75 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,18 atau 1,23% menjadi US$ 95,03 per barel.
Menteri Minyak Irak Hayan Abdel-Ghani menyatakan, aliran minyak dari pelabuhan Ceyhan diperkirakan dimulai pada pukul 07.00 GMT.
Dua pejabat minyak sebelumnya menyebut Irak menargetkan pengiriman setidaknya 100.000 barel per hari melalui jalur tersebut.
Meski demikian, analis IG, Tony Sycamore, menilai volume tersebut belum cukup signifikan untuk mengubah kondisi pasar secara besar.
“Tambahan ini memang membantu, tetapi bukan pengubah permainan karena Irak masih kehilangan sekitar 2 juta barel per hari,” ujarnya.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Stabil Rabu (18/3), Ringgit Malaysia Pimpin Penguatan
Produksi minyak dari ladang utama di selatan Irak dilaporkan anjlok hingga 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari, seiring konflik Iran yang secara efektif menutup Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global.
Ketegangan geopolitik juga masih tinggi. Iran mengonfirmasi kematian kepala keamanannya, Ali Larijani, dalam serangan Israel.
Seorang pejabat senior Iran menyebut pemimpin tertinggi baru negara itu menolak tawaran de-eskalasi dari negara perantara.
Militer Amerika Serikat juga menyatakan telah menargetkan lokasi di sepanjang pesisir Iran dekat Selat Hormuz, dengan alasan ancaman rudal anti-kapal terhadap pelayaran internasional.
Meski demikian, menurut peneliti China Futures, Mingyu Gao, kematian Larijani dan serangan AS memunculkan harapan bahwa konflik bisa berakhir lebih cepat.
Baca Juga: Emas Stabil Rabu (18/3), Investor Waspadai Risiko Timur Tengah Jelang Keputusan Fed
Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat 6,56 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Maret, jauh di atas perkiraan pasar sekitar 380.000 barel. Kenaikan stok ini turut menekan harga minyak.













