kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Banyak Mayat yang Menumpuk, Layanan Pemakaman Hong Kong Kewalahan


Rabu, 06 April 2022 / 09:54 WIB
Banyak Mayat yang Menumpuk, Layanan Pemakaman Hong Kong Kewalahan
ILUSTRASI. Hong Kong hingga kini masih berjibaku dalam menangani pandemi Covid-19. REUTERS/Tyrone Siu


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Hong Kong hingga kini masih berjibaku dalam menangani pandemi Covid-19. Kondisi yang terjadi saat ini, peti mati kayu tradisional hampir habis di Hong Kong ketika pihak berwenang berupaya untuk menambah ruang kamar mayat.

"Saya belum pernah melihat begitu banyak mayat ditumpuk bersama-sama," kata direktur pemakaman Lok Chung, 37 tahun kepada Reuters. 

Dia mengatakan, sudah sekitar 40 pemakaman diselenggarakan pada bulan Maret, naik dari sekitar 15 dalam rata-rata selama satu bulan.

"Saya belum pernah melihat anggota keluarga begitu sedih, sangat kecewa, sangat tidak berdaya," kata Chung.

Sejak gelombang kelima virus corona menghantam wilayah bekas jajahan Inggris tahun ini, telah dilaporkan lebih dari satu juta infeksi dan lebih dari 8.000 kematian.

Penampakan mayat yang ditumpuk di ruang gawat darurat di sebelah ruang pasien telah mengejutkan banyak orang karena tempat-tempat di kamar mayat terisi dengan cepat.

Baca Juga: Kemunculan Varian China dan Omicron XE Kembali Bikin Dunia Cemas

Chung mengatakan, penantian yang lama untuk memproses dokumen kematian telah menghambat pekerjaannya.

Bahkan ada keluarga seorang wanita yang meninggal pada 1 Maret masih menunggu surat-surat untuk memungkinkan mereka membawa pulang jasadnya.

Hong Kong juga kekurangan replika kertas tradisional dari barang-barang, mulai mobil hingga rumah dan barang-barang pribadi lainnya, yang dibakar sebagai persembahan di pemakaman Tiongkok untuk digunakan orang mati di alam berikutnya.

Sebagian besar keterlambatan disebabkan oleh kemacetan transportasi dari kota tetangga di China selatan, Shenzhen, yang memasok banyak barang, namun sekarang tengah memerangi wabah Covid-19-nya sendiri.

Perbatasan dengan Hong Kong sebagian besar ditutup karena virus mematikan tersebut.

Infeksi di antara staf di rumah duka juga menimbulkan tantangan yang signifikan, kata direktur pemakaman lainnya, Hades Chan.

Baca Juga: Awas, Kasus Covid-19 di China Naik Lagi, Ada Varian Baru Virus Corona

"Hampir seperempat orang tidak bisa bekerja. Jadi, beberapa panti harus mengumpulkan staf di antara mereka sendiri untuk tetap bekerja."

Ibu rumah tangga Kate, 36, mengatakan kematian ayah mertuanya pada bulan Maret akibat Covid-19 menimbulkan rasa emosional yang besar pada keluarga. Dia menambahkan, penyesalan terbesarnya adalah tidak dapat mengunjunginya di rumah sakit.

"Ketika mereka mengira ayah saya tidak akan berhasil, kami bergegas ke sana, tetapi sudah terlambat," kata wanita yang hanya menyebutkan satu nama itu kepada Reuters sambil menahan air mata saat upacara pemakaman.

"Baru sekarang kita bisa melihatnya untuk terakhir kalinya," tambahnya.

Menurut city food and hygiene official Irene Young, China memasok lebih dari 95% dari 250 hingga 300 peti mati yang dibutuhkan Hong Kong setiap hari.

Ia menerima lebih dari 3.570 peti mati selama periode 14-26 Maret, setelah pemerintah kota yang dikuasai China berkoordinasi dengan otoritas daratan.

Enam krematorium sekarang dijalankan hampir sepanjang waktu. Departemen Young sendiri telah melakukan hampir 300 kremasi sehari, atau dua kali lipat dari biasanya.

Dan kamar mayat umum telah diperluas untuk menampung 4.600 mayat dari 1.350 sebelumnya, kata pihak berwenang.

Organisasi non-pemerintah Forget Thee Not telah bermitra dengan produsen peti mati ramah lingkungan, LifeArt Asia, untuk menyumbangkan 300 peti mati tersebut dan 1.000 kotak pengawet ke enam rumah sakit umum.

Setiap peti mati, terbuat dari karton dengan serat kayu daur ulang, dapat menahan berat hingga 200 kg (440 lb).

Ketika dimasukkan ke dalam peti mati atau kantong mayat, bahan pengawet seperti bubuk itu berubah menjadi gas, untuk menjaga tubuh dalam keadaan alami hingga lima hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×