kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Barclays Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga Sepanjang 2026, Ini Pemicunya


Senin, 04 Mei 2026 / 14:59 WIB
Barclays Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga Sepanjang 2026, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. BARCLAYS ( REUTERS/Simon Dawson)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Barclays menjadi salah satu lembaga keuangan terbaru yang memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve sepanjang 2026.

Proyeksi ini didorong oleh tingginya harga energi akibat konflik Iran yang berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi.

Mengutip Reuters, Senin (4/5/2026), sebelumnya Barclays memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.

Baca Juga: UPDATE: Harga Minyak Dunia Naik Senin (4/5), Brent ke US$ 108,84

Namun, proyeksi tersebut kini direvisi. Meski begitu, Barclays masih mempertahankan perkiraan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret 2027.

Sejumlah broker global juga mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini.

Jika sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemangkasan pada 2026, kini proyeksi semakin terbelah antara skenario pelonggaran terbatas atau bahkan tanpa pemangkasan sama sekali.

Hal ini dipicu oleh risiko inflasi akibat konflik geopolitik yang membuat pembuat kebijakan lebih berhati-hati.

Baca Juga: Trump Siap Kawal Kapal Keluar Selat Hormuz, Iran Ancam AS

Pekan lalu, Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga dalam keputusan yang paling terpecah sejak 1992, di tengah kekhawatiran meningkatnya harga energi yang mulai merambat ke perekonomian.

Inflasi di Amerika Serikat (AS) sendiri masih berada jauh di atas target 2% bank sentral, seiring gangguan pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.

Analis Barclays menyebut, harga minyak yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama berpotensi mendorong inflasi, baik pada komponen utama maupun inti, serta menekan pertumbuhan ekonomi.

“Sebaliknya, jika tingkat pengangguran naik secara tiba-tiba, kami memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan memangkas suku bunga lebih cepat dan agresif,” tulis Barclays dalam risetnya.

Baca Juga: Selat Hormuz Kian Panas: AS Turun Tangan, Iran Siap Balas

Di sisi lain, kenaikan harga energi diperkirakan akan menekan konsumsi rumah tangga. Namun, dampak tersebut sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan investasi bisnis, terutama di sektor energi dan belanja terkait kecerdasan buatan (AI).

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 78,7% bahwa suku bunga AS tidak akan berubah hingga akhir tahun, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool.


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×