Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Raksasa farmasi asal Jerman, Bayer, menggugat Johnson & Johnson (J&J) atas dugaan iklan menyesatkan terkait obat kanker prostat andalannya.
Mengutip Reuters, dalam gugatan yang diajukan ke pengadilan federal Manhattan pada Senin (23/2/2026), Bayer menuduh J&J secara keliru mengklaim bahwa obatnya, Erleada, mampu memangkas risiko kematian akibat kanker prostat hingga 51%.
Bayer menilai kampanye terbaru J&J tersebut dapat menimbulkan kerugian serius dan menggerus kepercayaan terhadap obat miliknya, Nubeqa.
Menurut Bayer, klaim “penurunan risiko kematian 51%” didasarkan pada pengujian yang disebut-sebut mereplikasi uji klinis dan mengikuti standar ketat dari U.S. Food and Drug Administration (FDA). Namun, Bayer berargumen bahwa perbandingan tersebut tidak setara.
Perusahaan menyebut sebagian besar pasien Nubeqa dalam analisis tersebut menerima obat secara off-label, sehingga menimbulkan bias seleksi yang tidak dapat diperbaiki. Selain itu, studi J&J disebut melibatkan jumlah pasien lima kali lebih banyak dibandingkan kelompok pembanding.
Bayer juga menegaskan bahwa FDA tidak mengesahkan analisis retrospektif berbasis data dunia nyata (real-world analysis) sebagai pengganti uji klinis tradisional.
“Dengan mengatasnamakan otoritas FDA untuk memberikan kredibilitas pada analisis yang cacat secara ilmiah, J&J telah menyesatkan pasien dan tenaga kesehatan,” demikian isi gugatan tersebut.
Baca Juga: Kronologi Tewasnya El Mencho, Pemimpin Kartel Paling Diburu di Meksiko
Dalam tuntutannya, Bayer meminta ganti rugi hukuman (punitive damages), ganti rugi tiga kali lipat, pengembalian keuntungan yang diperoleh secara tidak sah, serta perintah pengadilan untuk menghentikan iklan yang dianggap menyesatkan.
J&J membela diri
Berkantor pusat di New Brunswick, New Jersey, Johnson & Johnson membantah tuduhan tersebut dan mempertahankan metodologi pengujian maupun strategi pemasarannya.
“Litigasi tidak mengubah data. Analisis kami dirancang untuk memenuhi panduan ketat terkait real-world evidence, dan langkah hukum ini menunjukkan kesalahpahaman Bayer terhadap kerangka metodologi tersebut,” ujar juru bicara J&J dalam pernyataan tertulis.
Bayer juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) yang dinilai ikut memperkuat klaim J&J. Berdasarkan hasil pencarian Google terkait Erleada, Nubeqa, dan risiko kematian, Bayer menilai AI turut menyebarkan pesan yang tidak didukung bukti kuat tentang risiko kematian pada pasien yang menggunakan Nubeqa.
Menurut data National Cancer Institute, sekitar 313.780 pria didiagnosis kanker prostat di Amerika Serikat sepanjang 2025, dengan 35.770 kematian akibat penyakit tersebut pada tahun yang sama.
Tonton: Pembelian 50 Pesawat Boeing di Perjanjian Dagang RI-AS untuk Regenerasi Armada
Dari sisi bisnis, penjualan Nubeqa mencapai sekitar 1,63 miliar euro (setara US$ 1,92 miliar) dalam sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, penjualan Erleada mencapai US$ 2,62 miliar dalam periode yang kurang lebih sama, dan total penjualan setahun penuh mencapai US$ 3,57 miliar.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)