Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bayer melalui unit Monsanto menggugat produsen vaksin COVID-19 Pfizer, BioNTech, dan Moderna ke pengadilan federal Delaware pada Selasa (6/1/2026), dengan tuduhan pelanggaran paten terkait penggunaan teknologi messenger RNA (mRNA) dalam pembuatan vaksin mereka.
Juru bicara Bayer mengonfirmasi bahwa gugatan tersebut menuding ketiga perusahaan telah menyalin teknologi yang dikembangkan Monsanto sejak era 1980-an.
Teknologi itu awalnya digunakan untuk memperkuat dan menstabilkan mRNA pada tanaman, guna meningkatkan ketahanan terhadap hama, dan dinilai telah diaplikasikan untuk menstabilkan materi genetik dalam vaksin COVID-19.
Baca Juga: Berkshire Hathaway Naikkan Gaji CEO Baru Greg Abel Jadi US$25 Juta
Selain itu, Bayer juga mengajukan gugatan terpisah terhadap Johnson & Johnson (J&J) di pengadilan federal New Jersey pada hari yang sama.
Dalam gugatan tersebut, Bayer berargumen bahwa proses berbasis DNA yang digunakan J&J dalam memproduksi vaksin COVID-19 melanggar paten yang dimilikinya.
Perwakilan Moderna menyatakan, pihaknya mengetahui adanya gugatan tersebut dan akan melakukan pembelaan.
Sementara itu, Pfizer, BioNTech, dan Johnson & Johnson belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.
Gugatan Bayer menambah daftar panjang sengketa paten terkait vaksin COVID-19, yang sebelumnya juga mencakup gugatan Moderna terhadap Pfizer pada 2022.
Bayer menegaskan bahwa perusahaan tidak terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 dan tidak memproduksi maupun menjual vaksin tersebut.
Dalam gugatannya, Bayer meminta ganti rugi dalam jumlah yang tidak disebutkan, namun menegaskan tidak bermaksud menghentikan produksi atau distribusi vaksin oleh para tergugat.
Baca Juga: Pasca Maduro, AS Bidik Kepala Keamanan Venezuela sebagai Target Potensial
Berdasarkan laporan perusahaan, Pfizer dan BioNTech membukukan pendapatan lebih dari US$3,3 miliar dari penjualan global vaksin Comirnaty sepanjang 2024.
Sementara itu, Moderna meraih pendapatan US$3,2 miliar dari vaksin Spikevax, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan masa puncak pandemi.
Adapun Johnson & Johnson telah menghentikan penjualan vaksin COVID-19 di Amerika Serikat sejak 2023.
Dalam dokumen gugatan, Bayer menyebut para ilmuwan Monsanto sebagai pelopor teknologi untuk mengurangi ketidakstabilan mRNA sejak 1980-an.
Bayer menuduh Pfizer dan Moderna menggunakan teknologi peningkatan stabilitas mRNA yang melanggar salah satu paten yang dimilikinya.













