kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.793   -6,00   -0,04%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Pasca Maduro, AS Bidik Kepala Keamanan Venezuela sebagai Target Potensial


Rabu, 07 Januari 2026 / 08:14 WIB
Pasca Maduro, AS Bidik Kepala Keamanan Venezuela sebagai Target Potensial
ILUSTRASI. USA-VENEZUELA/SOUTHKOREA (REUTERS/Kim Hong-Ji)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Menteri Dalam Negeri Venezuela yang dikenal garis keras, Diosdado Cabello, bahwa ia bisa menjadi target utama Washington jika tidak membantu Presiden Sementara Delcy Rodriguez memenuhi tuntutan AS dan menjaga stabilitas pasca tumbangnya Nicolas Maduro.

Hal ini diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui langsung pembahasan internal tersebut.

Cabello, yang mengendalikan aparat keamanan dan dituduh terlibat dalam berbagai pelanggaran HAM, merupakan salah satu loyalis Maduro yang untuk sementara dipertahankan Trump guna menjaga stabilitas selama masa transisi, menurut salah satu sumber yang mendapat pengarahan langsung terkait strategi pemerintah AS.

Baca Juga: Trump Buka Opsi Militer Rebut Greenland, Eropa Bereaksi Keras

Namun, para pejabat AS khawatir Cabello justru dapat menjadi penghambat transisi, mengingat rekam jejak represinya serta rivalitas politiknya dengan Rodriguez.

Washington kini berupaya memaksa kerja samanya, sembari mencari jalan untuk mendorongnya keluar dari kekuasaan dan masuk ke pengasingan, kata sumber tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Melalui perantara, AS telah menyampaikan peringatan kepada Cabello bahwa sikap membangkang dapat berujung pada nasib serupa dengan Maduro, yang ditangkap dalam operasi AS akhir pekan lalu dan diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan “narko-terorisme”. Bahkan, keselamatannya juga disebut bisa terancam.

Namun, langkah menyingkirkan Cabello dinilai berisiko tinggi. Aksi tersebut berpotensi memicu kelompok bermotor pro-pemerintah yang dikenal sebagai colectivos turun ke jalan dan menciptakan kekacauan situasi yang justru ingin dihindari Washington.

Reaksi kelompok tersebut diyakini bergantung pada sejauh mana mereka merasa dilindungi oleh pejabat lain di lingkaran kekuasaan.

Selain Cabello, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino juga masuk dalam daftar target potensial AS.

Baca Juga: Venezuela Berencana Mengekspor Minyak ke AS, Alihkan Pasokan dari China

Seperti Cabello, Padrino menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di AS dan memiliki hadiah jutaan dolar atas kepalanya, menurut dua sumber.

“Ini tetap merupakan operasi penegakan hukum, dan kami belum selesai,” ujar seorang pejabat Departemen Kehakiman AS dilansir dari Reuters pada Rabu (7/1/2026).

Washington menilai kerja sama Padrino sangat krusial untuk mencegah kekosongan kekuasaan, mengingat kendalinya atas angkatan bersenjata.

Ia dipandang lebih pragmatis dibanding Cabello dan dinilai lebih mungkin mengikuti garis kebijakan AS sambil mencari jalan keluar yang aman bagi dirinya.

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menolak menjawab pertanyaan spesifik Reuters, namun menyatakan bahwa presiden tengah mengerahkan “tekanan maksimum” terhadap elemen kekuasaan yang tersisa di Venezuela agar mau bekerja sama, termasuk menghentikan migrasi ilegal, memberantas narkotika, memulihkan infrastruktur minyak, serta “melakukan yang terbaik bagi rakyat Venezuela”.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi Venezuela belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Baca Juga: Trump Bahas Opsi untuk Akuisisi Greenland, Penggunaan Militer AS Jadi Pilihan

Keraguan AS terhadap Oposisi

Menurut sumber tersebut, pemerintahan Trump menilai oposisi Venezuela yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian Maria Corina Machado tidak mampu menjaga stabilitas.

Padahal, Trump menginginkan situasi relatif tenang agar perusahaan minyak AS dapat kembali mengakses cadangan minyak Venezuela yang besar tanpa harus mengerahkan pasukan darat AS.

Trump pun mengadopsi penilaian rahasia CIA yang menyimpulkan bahwa para pembantu utama Maduro justru paling siap memimpin pemerintahan sementara.

AS memilih bekerja sama dengan sekutu Maduro untuk sementara waktu demi mencegah kekacauan dan risiko kudeta dari elite yang tersingkir.

Meski demikian, Washington tetap menyatakan keinginan agar Venezuela bergerak menuju pemilu baru, meski jadwalnya belum jelas.

Trump juga belum menjelaskan secara rinci bagaimana AS akan mengelola Venezuela pasca intervensi terbesar AS di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989. Kritik pun bermunculan, menilai langkah ini sebagai bentuk neokolonialisme dan pelanggaran hukum internasional.

Baca Juga: Harga Minyak Turun 1%, Pasar Menimbang Prospek Pasokan dan Ketidakpastian Venezuela

Rodriguez Jadi Kunci

Untuk saat ini, AS memandang Delcy Rodriguez sebagai figur kunci yang paling memungkinkan untuk memegang kendali sementara sambil rencana transisi terus disusun. Salah satu sumber menyebut strategi ini masih “sangat dalam tahap pengembangan”.

Tuntutan AS terhadap para pemimpin Venezuela mencakup pembukaan industri minyak dengan syarat menguntungkan perusahaan AS, penindakan perdagangan narkoba, pengusiran personel keamanan Kuba, serta penghentian kerja sama Venezuela dengan Iran. Washington menginginkan kemajuan nyata dalam hitungan minggu.

Selain ancaman militer, AS juga menyiapkan tekanan finansial. Aset-aset Rodriguez yang disimpan di Qatar telah diidentifikasi dan berpotensi disita.

Washington juga berupaya menarik dukungan pejabat Venezuela di berbagai tingkatan guna membuka jalan bagi pemerintahan yang sejalan dengan kepentingan AS.

Para penasihat Trump melihat Rodriguez sebagai teknokrat yang relatif fleksibel dan bersedia bekerja sama dalam isu transisi serta sektor energi.

Baca Juga: Protes Pedagang Iran Tewaskan Puluhan Orang, Pemerintah Janji Reformasi Ekonomi

Namun, rivalitas lama antara Rodriguez dan Cabello keduanya telah lama berada di pusat kekuasaan menjadi potensi sumber konflik.

Cabello, mantan perwira militer yang dikenal sebagai penegak represi rezim Maduro, memiliki pengaruh besar atas badan intelijen sipil dan militer.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya menyimpulkan bahwa lembaga-lembaga tersebut terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai bagian dari strategi negara untuk membungkam perbedaan pendapat.

Selanjutnya: Sunyi, Antrean Panjang, dan Harga Gila: Potret Caracas Setelah Serangan AS

Menarik Dibaca: Kian Melejit, Cek Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Rabu (7/1)


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×