Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Sehari setelah operasi militer Amerika Serikat yang mengejutkan dunia dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial.
Melansir AP, pada Minggu (4/1/2025), Trump menegaskan lagi keinginannya agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark, demi kepentingan keamanan nasional AS. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa pemerintahan komunis Kuba kini berada dalam “masalah besar”.
Pernyataan Trump dan Rubio ini mempertegas bahwa Washington serius ingin memainkan peran yang jauh lebih agresif di kawasan Belahan Bumi Barat. Nada ancaman yang tersirat membuat negara kawan maupun lawan sama-sama waswas, dan memunculkan satu pertanyaan besar di panggung global: setelah Venezuela, siapa target berikutnya?
“Kita memang butuh Greenland, itu mutlak,” ujar Trump dalam wawancara dengan The Atlantic. Ia menyebut pulau strategis di kawasan Arktik itu kini “dikepung kapal Rusia dan China”. Ketika ditanya apakah aksi militer AS di Venezuela bisa menjadi gambaran masa depan Greenland, Trump menjawab singkat, “Mereka harus menilainya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu.”
Dalam Dokumen Strategi Keamanan Nasional yang dirilis bulan lalu, pemerintahan Trump secara eksplisit menargetkan pemulihan dominasi Amerika di Belahan Bumi Barat sebagai prioritas utama periode keduanya di Gedung Putih.
Baca Juga: Jika China Menyerang Taiwan, Ini Gambaran Perang Terbesar di Abad 21
Trump juga kembali merujuk Doktrin Monroe abad ke-19 serta Roosevelt Corollary, doktrin yang dulu dipakai AS untuk membenarkan campur tangan di kawasan, sebagai dasar pendekatan keras terhadap negara-negara tetangga. Bahkan, ia sempat bergurau bahwa doktrin itu kini disebut sebagian orang sebagai “Don-roe Doctrine”.
Operasi militer AS di Caracas yang dilakukan tengah malam, ditambah komentar Trump soal Greenland, langsung memicu kekhawatiran di Denmark. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dengan tegas menyatakan Trump tidak punya hak untuk mencaplok Greenland. Ia mengingatkan bahwa Denmark, sesama anggota NATO, sudah memberikan akses keamanan yang luas kepada AS melalui berbagai perjanjian.
“Saya mendesak Amerika Serikat untuk berhenti mengancam sekutu dekat yang secara jelas menyatakan bahwa mereka tidak untuk dijual,” tegas Frederiksen.
Ketegangan makin meningkat setelah sebuah unggahan media sosial dari mantan pejabat pemerintahan Trump yang menampilkan peta Greenland berwarna bendera AS dengan tulisan “SEGERA”. Dubes Denmark untuk Washington pun menegaskan bahwa Denmark menuntut penghormatan penuh terhadap kedaulatan wilayahnya.
Trump sendiri tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Greenland. Isu ini sempat mereda, namun kembali mencuat setelah Trump menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk Greenland. Landry bahkan secara terbuka menyatakan akan membantu Trump “menjadikan Greenland bagian dari Amerika Serikat”.
Baca Juga: Pemerintah Venezuela Kompak Bersatu Mendukung Presiden Maduro













