kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.795   -4,00   -0,02%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Trump Buka Opsi Militer Rebut Greenland, Eropa Bereaksi Keras


Rabu, 07 Januari 2026 / 07:54 WIB
Trump Buka Opsi Militer Rebut Greenland, Eropa Bereaksi Keras
ILUSTRASI. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden AS Donald Trump dan para penasihatnya sedang membahas berbagai opsi untuk menguasai Greenland. (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: The Guardian | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para penasihatnya sedang membahas berbagai opsi untuk menguasai Greenland, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Dalam pernyataan resmi pada Selasa, pihak Gedung Putih menyebut bahwa opsi militer “selalu tersedia” bagi presiden AS.

The Guardian melaporkan, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump menganggap penguasaan Greenland sebagai prioritas keamanan nasional Amerika Serikat. Menurutnya, langkah itu dianggap penting untuk menangkal ancaman dari negara-negara rival di kawasan Arktik.

“Presiden Trump sudah lama menyatakan bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS. Presiden dan timnya sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri ini, dan tentu saja penggunaan militer selalu menjadi salah satu pilihan yang dimiliki panglima tertinggi,” ujar Leavitt.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari negara-negara Eropa. Para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, dan sejumlah negara lain bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Amerika Serikat harus menghormati kedaulatan Denmark dan Greenland.

Dalam pernyataan itu ditegaskan bahwa keamanan kawasan Arktik merupakan prioritas utama NATO. Mereka juga menekankan bahwa Greenland sepenuhnya milik rakyatnya, dan hanya Denmark serta Greenland yang berhak menentukan masa depan wilayah tersebut.

Baca Juga: Venezuela Berencana Mengekspor Minyak ke AS, Alihkan Pasokan dari China

Frederiksen sebelumnya bahkan memperingatkan bahwa serangan AS terhadap negara anggota NATO akan menjadi akhir dari aliansi militer tersebut dan tatanan keamanan global pasca-Perang Dunia II.

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen juga secara terbuka meminta Trump menghentikan “fantasi aneksasi” dan menyebut pernyataan AS sebagai retorika yang “sepenuhnya tidak dapat diterima”.

Trump kembali mengangkat isu pengambilalihan Greenland tak lama setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan elite AS. Sehari setelah kejadian itu, Trump mengatakan bahwa Amerika “sangat membutuhkan” Greenland, yang langsung meningkatkan ketegangan antara AS, Greenland, Denmark, dan Eropa.

Greenland sendiri berulang kali menegaskan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat. Gagasan ini juga tidak populer di dalam negeri AS. Sebuah jajak pendapat menunjukkan hanya 7 persen warga Amerika yang mendukung pengambilalihan Greenland secara militer.

Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller menyebut Denmark tidak memiliki hak atas Greenland, meskipun wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Greenland memang mengelola urusan dalam negerinya sendiri, tetapi kebijakan luar negeri dan pertahanan masih berada di tangan Kopenhagen.

Miller juga mengklaim bahwa penggunaan militer sebenarnya tidak diperlukan karena, menurutnya, tidak ada negara yang akan berani melawan Amerika Serikat secara militer demi Greenland.

Baca Juga: Era Baru Berkshire, Warisan Lama: Inilah 5 Saham Penguasa Portofolio Warren Buffett




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×