Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank sentral Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) kembali menarik perhatian pasar setelah secara mengejutkan memperketat kebijakan moneter pada Senin (27/7/2026).
Berbeda dengan mayoritas bank sentral dunia, MAS tidak menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama untuk mengendalikan inflasi.
Sebaliknya, MAS mengelola kebijakan moneter melalui nilai tukar dolar Singapura terhadap mata uang negara mitra dagangnya.
Langkah tersebut dinilai lebih efektif mengingat Singapura merupakan negara dengan perekonomian yang sangat bergantung pada perdagangan internasional.
Baca Juga: Bank Sentral Singapura Kejutkan Pasar dengan Pengetatan Kebijakan demi Redam Inflasi
Mengapa Singapura mengandalkan nilai tukar?
Singapura merupakan salah satu ekonomi paling terbuka di dunia. Nilai ekspor dan impor barang serta jasa negara tersebut mencapai lebih dari tiga kali produk domestik bruto (PDB)-nya.
Selain itu, hampir 40 sen dari setiap satu dolar Singapura yang dibelanjakan di dalam negeri digunakan untuk membeli barang impor.
Karena ketergantungan yang tinggi terhadap impor, perubahan nilai tukar memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap inflasi dibandingkan perubahan suku bunga domestik.
Sebagai contoh, ketika dolar Singapura menguat terhadap mata uang negara mitra dagang, harga barang dan jasa impor menjadi lebih murah.
Kondisi ini membantu menekan inflasi dan mengurangi beban biaya yang harus ditanggung rumah tangga.
Baca Juga: Gencatan Senjata Sementara AS-Iran Tekan Dolar Senin (27/7), Pasar Kembali Optimistis
Apa itu S$NEER?
Instrumen utama kebijakan moneter MAS adalah Singapore dollar Nominal Effective Exchange Rate (S$NEER), yaitu indeks nilai tukar dolar Singapura yang dihitung berdasarkan bobot perdagangan dengan mata uang negara-negara mitra utama.
Dengan menggunakan indeks tersebut, pergerakan dolar Singapura mencerminkan kondisi perdagangan secara keseluruhan, bukan hanya terhadap satu mata uang tertentu seperti dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: Nvidia Gencar Ekspansi Data Center, Bakal Beli Saham Baru Naver Korea Selatan
Bagaimana mekanisme kebijakannya?
MAS tidak menetapkan kurs tetap dolar Singapura maupun mengendalikan pergerakannya setiap saat.
Sebaliknya, bank sentral membiarkan nilai tukar bergerak dalam suatu koridor atau policy band, sementara batas atas dan batas bawah koridor tersebut tidak dipublikasikan.
Jika nilai tukar keluar dari koridor yang ditetapkan, MAS akan melakukan intervensi dengan membeli atau menjual dolar Singapura agar kembali berada dalam kisaran yang diinginkan.
Dalam menjalankan kebijakannya, MAS memiliki tiga instrumen utama yang dapat disesuaikan, yaitu:
- Kemiringan (slope), yang menentukan kecepatan apresiasi atau depresiasi dolar Singapura dari waktu ke waktu.
- Titik tengah (mid-point atau level), yang memungkinkan penguatan atau pelemahan nilai tukar secara langsung. Instrumen ini umumnya digunakan dalam kondisi luar biasa, seperti saat terjadi resesi.
- Lebar koridor (width), yang mengatur seberapa besar ruang gerak nilai tukar di dalam koridor. Semakin lebar koridor, semakin besar volatilitas nilai tukar yang diizinkan.
Baca Juga: PM Jepang Sanae Tidur 0-3 Jam Sehari, Berapa Lama Tidur yang Baik untuk Kesehatan?
Tinjauan kebijakan lebih sering
Hingga 2024, MAS umumnya meninjau kebijakan moneternya dua kali setahun, yakni pada April dan Oktober.
Namun, bank sentral juga dapat menggelar rapat di luar jadwal apabila kondisi ekonomi memerlukan respons cepat.
Hal ini pernah dilakukan pada 2022 ketika lonjakan inflasi memaksa MAS melakukan dua kali pengetatan di luar jadwal rutin.
Sejak 2024, MAS mulai mengumumkan kebijakan moneter setiap kuartal.
Langkah ini bertujuan agar bank sentral dapat memberikan penilaian terhadap prospek ekonomi secara lebih cepat dan responsif terhadap perubahan kondisi global.














