Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dunia usaha Iran kembali menghadapi tekanan berat akibat pemadaman internet yang masih berlangsung.
Kebijakan tersebut diterapkan di tengah upaya pemerintah menggunakan kekuatan besar untuk meredam gelombang protes berskala nasional, dan kini melumpuhkan aktivitas perdagangan di perekonomian yang sudah tertekan.
Melansir Reuters Senin (26/1/2026), Pemerintah Iran memblokir akses internet sejak 8 Januari, setelah aksi protes anti-pemerintah menyebar ke berbagai wilayah dan berujung pada penindakan paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979.
Baca Juga: Nvidia Investasikan US$ 2 Miliar di CoreWeave untuk Tingkatkan Pembangunan Pusat Data
Hingga kini, belum ada kepastian kapan Iran akan kembali terhubung sepenuhnya dengan jaringan internet global.
Menurut kelompok pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat, HRANA, jumlah korban tewas akibat kerusuhan yang telah diverifikasi mencapai 5.848 orang, termasuk 209 personel keamanan.
Sementara data resmi pemerintah menyebutkan angka korban tewas sebesar 3.117 orang. Reuters tidak dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.
Akses ke Dunia Luar Masih Terbatas
Meski jaringan domestik Iran secara bertahap memungkinkan akses terbatas ke sejumlah platform daring seperti situs pemerintah dan intranet sekolah konektivitas penuh ke internet global belum dipulihkan.
Padahal, banyak pelaku usaha sangat bergantung pada akses tersebut untuk menjalankan operasional bisnis.
Baca Juga: Pesanan Barang Modal Inti AS Lampaui Ekspektasi pada November 2025
Pembatasan ini menuai kritik keras dari kalangan pengusaha dan sebagian pejabat pemerintah.
Menteri Komunikasi Iran Sattar Hashemi sebelumnya menyatakan sekitar 10 juta orang bekerja di sektor ekonomi digital.
“Para pelaku ekonomi sangat marah. Solusi harus segera diterapkan agar para pedagang dapat mempertahankan komunikasi dengan dunia luar,” ujar Jalil Jalalifar dari Kamar Dagang Gabungan Iran–Rusia, seperti dikutip media bisnis Tejaratnews.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang Iran–China, Majid Reza Hariri, mengkritik kebijakan pemberian akses internet terbatas yang dinilainya “hanya cukup untuk memeriksa beberapa email”, karena durasi yang singkat dan pengawasan yang ketat, menurut laporan Eghtesadonline.
Meski situasi di jalanan relatif kembali tenang setelah berminggu-minggu protes, ketidakpastian terkait berakhirnya isolasi digital Iran justru menambah frustrasi para pemilik usaha.
Baca Juga: Profesor Ekonomi Senior Ini Sebut Bitcoin Bukan Safe Haven Tapi ‘Emas Palsu’
Beberapa media pemerintah pada Minggu (26/1) melaporkan bahwa sebuah lembaga keamanan tingkat tinggi telah memerintahkan pemulihan penuh akses internet global. Namun, laporan tersebut kemudian dibantah oleh otoritas berwenang.
Sejumlah anggota parlemen justru membela pembatasan tersebut.
“Internet telah menjadi alat Amerika untuk mengendalikan dunia,” ujar legislator Abolfazl Zahravand, seperti dikutip media pemerintah.
Aparat keamanan dan lembaga peradilan Iran menuding internet telah memfasilitasi komunikasi antara pihak yang mereka sebut sebagai “perusuh” atau “teroris bersenjata” dengan kekuatan asing selama aksi protes berlangsung.













