kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Ujian Terberat Starlink, Iran Kerahkan Teknologi Pengacau Satelit Canggih


Sabtu, 17 Januari 2026 / 17:41 WIB
Ujian Terberat Starlink, Iran Kerahkan Teknologi Pengacau Satelit Canggih
ILUSTRASI. Internet Starlink (Dok/Starlink.com)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Penindasan keras Iran terhadap kelompok pembangkang menjadi salah satu ujian keamanan terberat sejauh ini bagi layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk. Layanan ini telah menjadi jalur komunikasi penting untuk melawan pemadaman internet yang diberlakukan negara, sejak pertama kali digunakan secara luas dalam perang di Ukraina.

SpaceX, perusahaan milik Musk yang mengoperasikan Starlink, pekan ini menggratiskan layanan satelit tersebut bagi warga Iran. Langkah ini menempatkan perusahaan antariksa asal Amerika Serikat itu di pusat ketegangan geopolitik baru, memperhadapkan tim insinyur berbasis di AS dengan kekuatan regional yang dilengkapi teknologi pengacau satelit dan pemalsuan sinyal, menurut para aktivis, analis, dan peneliti.

Cara SpaceX menghadapi upaya Iran mengganggu Starlink diperkirakan menjadi perhatian serius militer dan badan intelijen AS, yang juga menggunakan Starlink dan varian militernya, Starshield. Selain itu, China turut memantau perkembangan ini, mengingat negara tersebut tengah mengembangkan konstelasi satelit internet sendiri yang berpotensi menyaingi Starlink dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Maruti Suzuki Akan Investasi US$ 3,9 Miliar untuk Bangun Pabrik Baru di India

Dengan SpaceX yang tengah mempertimbangkan penawaran saham perdana (IPO) tahun ini, situasi di Iran juga menjadi ajang unjuk kemampuan Starlink di hadapan calon investor.

“Kami berada di fase awal sejarah komunikasi berbasis antariksa, di mana SpaceX adalah satu-satunya penyedia nyata dalam skala sebesar ini,” kata John Plumb, mantan kepala kebijakan antariksa Pentagon di bawah Presiden Joe Biden.

“Rezim-rezim represif berpikir mereka masih bisa mematikan komunikasi, tetapi saya yakin akan tiba masanya hal itu tidak lagi mungkin,” ujarnya.

Victoria Samson, direktur utama bidang keamanan dan stabilitas antariksa di lembaga pemikir Secure World Foundation, mengatakan Rusia yang telah mengerahkan berbagai teknologi untuk melawan Starlink di Ukraina kemungkinan tertarik mengamati efektivitas gangguan Iran terhadap layanan tersebut.

“Saya pikir banyak pihak yang mengamati bagaimana Starlink bertahan dalam situasi ini,” katanya.

Baca Juga: Uni Eropa Akan Menghapus Bertahap Perangkat China dari Infrastruktur Kritis

Dalam sepekan terakhir, ribuan orang yang memprotes pemerintahan ulama Iran dilaporkan tewas. Pembatasan komunikasi oleh Teheran membuat skala penuh penindasan tersebut sulit diketahui.

Starlink, yang lebih sulit diganggu dibanding jaringan kabel dan menara seluler, menjadi alat penting untuk mendokumentasikan kejadian di lapangan. Peneliti Iran dari Amnesty International, Raha Bahreini, mengatakan pihaknya telah memverifikasi puluhan video dari Iran termasuk rekaman pengunjuk rasa yang tewas atau terluka akibat tindakan aparat keamanan dan meyakini hampir seluruhnya berasal dari orang-orang yang memiliki akses ke Starlink.

Namun, ia menambahkan bahwa pembatasan komunikasi yang sedang berlangsung tetap menghambat upaya organisasi hak asasi manusia untuk menilai skala kekerasan yang terjadi.

Starlink sendiri dilarang di Iran, tetapi puluhan ribu terminal diduga telah diselundupkan ke negara tersebut. Jumlah pasti yang aktif masih belum jelas. Holistic Resilience, sebuah organisasi nirlaba AS yang membantu pengiriman terminal Starlink ke Iran, menyatakan tengah bekerja sama dengan SpaceX untuk memantau apa yang mereka sebut sebagai upaya Iran mengacaukan sistem tersebut.

Terminal Starlink versi konsumen berbentuk antena persegi panjang, tersedia dalam dua ukuran: satu seukuran kotak pizza dan versi portabel yang lebih kecil seukuran laptop.

SpaceX tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Sementara itu, misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York juga menolak berkomentar.

Baca Juga: Elon Musk Gugat OpenAI dan Microsoft Nilai Tuntutannya Mencapai US$ 134 Miliar

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, dalam wawancara dengan Al Jazeera TV pada Senin, mengatakan pemutusan internet dilakukan setelah menghadapi operasi teroris dan menyadari bahwa perintahnya datang dari luar negeri.

Starlink, sebagai konstelasi internet satelit skala besar pertama di dunia, telah menjadi alat komunikasi krusial di wilayah konflik dan daerah terpencil. Jaringan ini menyumbang pendapatan SpaceX sebesar US$ 15 miliar pada 2024, sekaligus memperluas pengaruh geopolitik Musk, yang pada 2022 sempat mengendalikan penggunaan Starlink oleh pasukan Ukraina dalam perang melawan Rusia.

Sekitar 10.000 satelit Starlink di orbit rendah melaju dengan kecepatan sekitar 27.360 kilometer per jam membuat sinyalnya jauh lebih sulit dilacak dan diganggu dibanding sistem satelit tradisional yang bergantung pada satu satelit besar di atas wilayah tertentu.

Menurut Holistic Resilience dan para pakar lainnya, Iran kemungkinan menggunakan pengacau satelit untuk mengganggu sinyal Starlink. Selain itu, Iran juga diduga melakukan spoofing, yakni menyiarkan sinyal GPS palsu untuk membingungkan dan melumpuhkan terminal Starlink, kata Nariman Gharib, aktivis oposisi Iran dan penyelidik spionase siber independen yang berbasis di Inggris.

Pemalsuan GPS tersebut merusak koneksi terminal dan memperlambat kecepatan internet. “Anda mungkin masih bisa mengirim pesan teks, tapi lupakan panggilan video,” kata Gharib.

Baca Juga: Rekor! Konsumsi Listrik China Tembus 10,37 Triliun KWh

Meski tidak memiliki izin operasi di Iran, Musk berulang kali mengonfirmasi keberadaan Starlink di negara tersebut melalui platform media sosial X. Hal ini memicu upaya bertahun-tahun pemerintah Iran untuk menanggulangi layanan tersebut. Saat protes atas kematian Mahsa Amini pada Desember 2022, Musk menyebut hampir 100 terminal Starlink aktif di Iran.

Setelah perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, parlemen Iran mengesahkan undang-undang yang melarang penggunaan Starlink dan memberlakukan hukuman berat bagi siapa pun yang menggunakan atau mendistribusikan teknologi tanpa izin tersebut, menurut media pemerintah Iran.

Iran juga menempuh jalur diplomatik dengan meminta panel Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU) PBB untuk memaksa Amerika Serikat dan Norwegia, tempat Starlink terdaftar secara internasional memblokir layanan itu. Dalam pertemuan Juli lalu, Iran menyatakan penggunaan Starlink di negaranya ilegal dan menuduh bahwa negara penyerang telah menggunakan terminal Starlink pada drone dalam serangan terbaru.

Pada November, Iran mengakui kepada panel tersebut bahwa pihaknya kesulitan melacak dan menonaktifkan terminal Starlink yang beroperasi di dalam negeri.

Selanjutnya: Film Ghost in the Cell Karya Joko Anwar Terpilih di Berlinale 2026

Menarik Dibaca: Film Ghost in the Cell Karya Joko Anwar Terpilih di Berlinale 2026




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×