kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,94   -3,77   -0.38%
  • EMAS988.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Bunga Global Naik, Ini Negara-Negara yang Tingkat Utangnya Rawan versi S&P Global


Kamis, 23 Juni 2022 / 06:42 WIB
Bunga Global Naik, Ini Negara-Negara yang Tingkat Utangnya Rawan versi S&P Global
ILUSTRASI. S&P Global menyebutkan sejumlah negara berkembang bakal mengalami tekanan peringkat kredit akibat kenaikan suku bunga global.


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - LONDON. Lembaga pemeringkat internasional S&P Global menyebutkan sejumlah negara berkembang bakal mengalami tekanan peringkat kredit akibat kenaikan suku bunga global.

Laporan S&P menyebut, Italia yang punya tingkat utang terhadap produk domestik bruto (PDB) besar akan menghadapi tagihan utang tertinggi. Sementara Ukraina, Brasil, Mesir, Ghana dan Hongaria adalah negara-negara pasar berkembang yang paling rentan.

"Kenaikan suku bunga terlihat menjadi tantangan fiskal bagi minoritas penguasa pasar maju dan setidaknya enam dari 19 penguasa pasar negara berkembang," demikian laporan S&P yang dikutip Reuters.

S&P mengasumsikan biaya pinjaman akan naik hingga 300 basis poin dalam tiga tahun ke depan.

Baca Juga: Risiko Kredit Perbankan di AS Meningkat Pasca Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dengan banyak negara telah menaikkan suku bunga dengan laju tercepat dalam beberapa dekade, biaya pinjaman negara-negara kaya yang ditunjukkan oleh imbal hasil obligasi acuan mereka, sudah naik lebih dari 200 basis poin, atau 2 poin persentase, selama setahun terakhir.

Proyeksi Kenaikan bunga 300 bps dalam tiga tahun ke depan, menurut S&P, akan meningkatkan 1 poin persentase peningkatan PDB dalam belanja bunga pada tahun 2025 dibandingkan dengan pengeluaran bunga rata-rata tahun ini terhadap PDB sebesar 2,2%.

"Itu adalah titik tekanan yang signifikan pada pengeluaran publik dalam banyak kasus," kata S&P.

Khusus Italia yang memiliki rasio utang sudah lebih dari 140% dari PDB, potensi pengeluaran biaya bunga bisa lebih besar lagi jika biaya pinjaman naik 300 basis poin.

Jika kenaikan bunga tak bisa dicegah, hitungan S&P, dapat meningkatkan biaya bunga Italia 5,5 poin persen dari PDB, level yang sama di tahun 2012.

Untuk Spanyol akan naik menjadi 3 poin persen dari PDB, level tertinggi sejak 2015. Untuk Amerika Serikat akan menjadi 4,6 poin persen, untuk Inggris akan menjadi 3,5 poin persen.

Sementara di Jepang, yang memiliki rasio utang terhadap PDB tertinggi di dunia pada 223 %, itu akan naik menjadi 5,4 poin persen.

S&P juga mengingatkan, kenaikan pesat suku bunga global diperkirakan akan membuat banyak ekonomi hampir berhenti selama beberapa tahun ke depan.

"Ini menyiratkan bahwa untuk menstabilkan utang terhadap PDB, pemerintah perlu memperketat posisi fiskal yang mendasarinya lebih dari yang tampaknya ingin atau mampu mereka lakukan saat ini," kata analis S&P.

Baca Juga: Usai Pengetatan Fed, Negara Berkembang Asia Lebih Menarik Tapi Analis Wanti-wanti Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×