Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia merosot ke level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Selasa (28/7/2026), dipicu aksi jual besar-besaran pada saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan.
Di saat yang sama, rupiah semakin mendekati rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia memicu kekhawatiran pasar.
Mengutip Reuters, investor mulai mempertanyakan apakah belanja modal yang sangat besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mampu menghasilkan imbal hasil yang sepadan.
Baca Juga: Saham LVMH Turun, Pemulihan Bisnis Louis Vuitton dan Dior Dinilai Belum Meyakinkan
Keraguan tersebut muncul setelah sejumlah emiten teknologi AS merilis laporan keuangan terbaru.
Sentimen negatif semakin menguat setelah debut spektakuler saham CXMT Corp di bursa Shanghai pada Senin (27/7).
Kinerja tersebut sekaligus menyoroti meningkatnya ancaman persaingan dari produsen chip asal China yang terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.
Akibatnya, saham-saham semikonduktor Asia yang selama ini menjadi motor reli AI mengalami tekanan besar.
Menurut analis, aksi jual dipicu kombinasi kekhawatiran terhadap kebutuhan pendanaan infrastruktur AI, kemajuan teknologi China, serta meningkatnya persaingan dari perusahaan-perusahaan chip China.
Baca Juga: Paolo Maldini dan Leonardo Mundur dari FIGC, Italia Hadapi Krisis Tim Nasional
"Pasar kini semakin sensitif terhadap setiap berita. Sedikit saja muncul kabar negatif langsung dianggap sebagai bukti bahwa reli AI sudah terlalu berlebihan," kata Zavier Wong, analis pasar di eToro.
Indeks MSCI Emerging Markets Asia turun lebih dari 4%, sementara MSCI EM Asia Information Technology Index anjlok 7,9%, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1 Mei.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI jatuh 10%, sedangkan indeks saham Taiwan melemah lebih dari 4%. Kedua pasar tersebut menyumbang lebih dari 90% bobot indeks teknologi Asia.
Saham SK Hynix merosot sekitar 14,7%, sementara Samsung Electronics mencatat penurunan harian terbesar sejak Oktober 2008.
Di Taiwan, indeks acuan sempat turun hingga 4,7% ke level terendah dalam sekitar dua bulan. Saham TSMC juga melemah 3,4% ke posisi terendah dalam hampir tujuh pekan.
Di pasar valuta asing, rupiah sempat melemah hingga 0,5% ke level Rp 18.095 per dolar AS, semakin mendekati rekor terendah sepanjang masa di Rp 18.190 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan Dekat Puncak 4 Pekan, Pasar Menanti Keputusan The Fed
Reuters menyebut tekanan terhadap rupiah bertambah setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia pada Senin kembali memunculkan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral Indonesia.
Berbeda dengan rupiah, rupee India menguat sekitar 0,8% dalam dua hari terakhir. Penguatan tersebut didorong oleh dugaan intervensi bank sentral India serta penurunan tajam harga minyak dunia.
Harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran, ditambah masih terbatasnya gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, membuat harga minyak tetap berada di bawah tekanan.
"Ketika ada dua faktor makro yang bergerak bersamaan, pasar cenderung mengikuti faktor yang bergerak paling cepat dan dampaknya paling terasa. Saat ini, aksi jual saham chip lebih mendominasi dibandingkan sentimen gencatan senjata," ujar Wong.
Di kawasan Asia Tenggara, indeks saham Kuala Lumpur turun 0,3%, sementara indeks Singapura melemah 0,1%. Adapun pasar saham Thailand tutup karena hari libur nasional.














