Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan bursa saham di kawasan Asia berkembang (emerging Asia) berlangsung beragam pada perdagangan Kamis (23/7/2026).
Lonjakan saham Korea Selatan berhasil mengimbangi pelemahan di sejumlah pasar Asia Tenggara yang masih dibayangi kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Baca Juga: Indonesia Resmi Pesan 12 Pesawat Tempur Ringan M-346F Block 20, Pengiriman Mulai 2030
Mengutip Reuters, indeks acuan KOSPI Korea Selatan melonjak 4,4% dan ditutup di atas level 7.000 poin untuk pertama kalinya.
Penguatan dipimpin oleh saham produsen chip SK Hynix yang naik 4,9% dan Samsung Electronics yang menguat 3,7%.
Sementara itu, indeks saham Taiwan yang didominasi emiten teknologi sempat menguat pada awal perdagangan, tetapi akhirnya ditutup relatif tidak berubah.
Investment Strategist Global X ETFs Australia, Billy Leung, mengatakan Korea Selatan menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan dari besarnya investasi global pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Korea tetap menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari siklus investasi AI, dengan momentum pertumbuhan laba sektor semikonduktor yang kuat sehingga menarik aliran modal global," ujarnya.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Menguat 0,46%, Ditopang Saham Terkait Chip
IHSG menguat, rupiah melemah
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat hingga 1,9% dan mencapai level tertinggi sejak 20 Mei.
Kenaikan tersebut membuat IHSG telah pulih lebih dari 20% dibandingkan posisi terendah dalam beberapa tahun yang tercatat pada awal Juni.
Penguatan tersebut terjadi sehari setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, di luar ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Sebagai pengganti kenaikan suku bunga, BI memilih memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dengan menurunkan biaya lindung nilai (hedging) serta memberikan insentif untuk menarik aliran dana asing ke pasar keuangan tanpa meningkatkan biaya pinjaman di dalam negeri.
Meski demikian, rupiah melemah ke level Rp 17.925 per dolar AS pada Kamis. Sehari sebelumnya, sebelum keputusan BI diumumkan, rupiah sempat menguat ke Rp 17.870 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Naik, Pasar Makin Yakin RBA Akan Kembali Naikkan Suku Bunga
Bursa ASEAN masih tertinggal
Di kawasan ASEAN, indeks saham Singapura turun hingga 0,9%, mengakhiri tren penguatan selama dua hari berturut-turut.
Sebaliknya, indeks saham Filipina naik 0,2%, sementara Thailand menguat 0,3%.
Leung menilai pasar saham ASEAN masih menghadapi sejumlah tantangan.
"ASEAN telah mengalami arus keluar dana dari pasar saham selama beberapa tahun, momentum pertumbuhan laba yang lebih lemah, serta kekhawatiran terhadap dampak perdagangan global dan tarif," katanya.
Namun, menurutnya, peluang pemulihan tetap terbuka apabila pertumbuhan ekonomi global tetap solid, Federal Reserve (The Fed) melanjutkan pelonggaran kebijakan moneternya, dan kinerja laba emiten di ASEAN mulai membaik.
Ia menambahkan, pasar yang didukung stimulus domestik dan prospek laba yang membaik berpotensi menjadi tujuan investasi yang menarik.
Sejalan dengan itu, J.P. Morgan menaikkan rekomendasi saham Thailand menjadi "neutral" dari sebelumnya "underweight". Broker tersebut menilai kondisi politik Thailand mulai lebih stabil dan arus dana asing kembali masuk ke kawasan.
Baca Juga: China Memulai Latihan Tembak Langsung di Selat Taiwan
Mata uang bergerak terbatas
Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang Asia cenderung terbatas.
Won Korea Selatan menguat ke 1.465,1 per dolar AS, level terkuat sejak awal Mei.
Dolar Taiwan menguat ke 32,23 per dolar AS, sedangkan dolar Singapura menguat ke 1,289 per dolar AS.
Di sisi lain, rupee India melemah dan kembali mendekati rekor terendahnya di kisaran 97 per dolar AS, mencerminkan masih kuatnya tekanan dolar AS di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.














