Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) kembali menguat setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai, kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun masih menjadi opsi yang masuk akal untuk meredam risiko inflasi.
Williams mengatakan, ekspektasi pasar yang memperkirakan Federal Reserve (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026 merupakan pandangan yang wajar.
Namun, ia menegaskan keputusan tersebut tetap akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Baca Juga: Bursa China Jatuh 1,7% Kamis (24/9), Investor Waspadai Hasil Pertemuan Trump-Xi
“Adalah masuk akal untuk berpikir bahwa kenaikan suku bunga lainnya mungkin diperlukan pada akhir tahun,” kata Williams dalam konferensi yang digelar National Institute of Economic and Social Research di London, Kamis (24/9), seperti dikutip Reuters Kamis (24/9/2026).
Menurut Williams, The Fed akan kembali mengumpulkan data ekonomi sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Pendekatan tersebut, lanjut dia, akan serupa dengan proses pengambilan keputusan antara Juli dan September.
Pernyataan Williams memperkuat sinyal hawkish dari sejumlah pejabat The Fed setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pekan lalu ke kisaran 3,75%-4,00%.
Dalam proyeksi terbaru, 16 dari 18 pejabat The Fed mengindikasikan bahwa setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan sebelum akhir 2026.
Sinyal kenaikan suku bunga tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan kuatnya aktivitas ekonomi AS.
Data terbaru menunjukkan indeks aktivitas bisnis AS mencapai level tertinggi sejak Juli 2021, sementara ukuran harga input perusahaan meningkat ke level tertinggi hampir empat tahun.
Baca Juga: Volkswagen Gandeng Xpeng, Luncurkan Mobil Listrik Baru di China
Kondisi tersebut turut mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan. Kontrak berjangka suku bunga AS pada Rabu (23/9) bahkan sempat mencerminkan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 27-28 Oktober, naik dari sekitar 55% sebelumnya.
Prospek kebijakan moneter yang lebih ketat juga menopang dolar AS. Pada Kamis, dolar bergerak di sekitar level tertinggi dalam hampir dua bulan setelah reli yang dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan serta kekhawatiran terhadap inflasi.
Dengan demikian, arah kebijakan The Fed hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, aktivitas ekonomi, serta data pasar tenaga kerja.
Williams menegaskan bahwa bank sentral masih akan mencermati data sebelum menentukan langkah berikutnya.














