Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham di kawasan Asia berkembang menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir Reuters, indeks MSCI Emerging Markets Asia naik hingga 3,5%, dipimpin reli kuat pasar saham Korea Selatan.
Baca Juga: Harga BBM Naik, Warga China Beralih Gunakan Taksi Listrik dan Ride-Hailing
Indeks KOSPI melonjak 6,2%, menjadi kenaikan harian terbesar dalam lebih dari lima pekan. Penguatan tersebut ditopang oleh reli saham produsen chip memori yang mendominasi indeks.
Saham SK Hynix melesat 8,8%, sementara Samsung Electronics naik 6,3%. Kedua emiten tersebut menyumbang lebih dari separuh bobot indeks KOSPI.
Sentimen positif datang setelah inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli.
Kondisi itu turut menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sekaligus mendorong kenaikan saham-saham teknologi di Wall Street, termasuk Nvidia dan Micron Technology.
"Sentimen positif itu mengalir langsung ke pasar Seoul dan sektor semikonduktor secara keseluruhan," kata Senior Financial Market Strategist Exness, Inki Cho.
Baca Juga: Iran Ancam Tutup Jalur Pelayaran Vital Lebih Banyak setelah Blokade AS Diperketat
Menurutnya, kenaikan 27% American Depositary Receipts (ADR) SK Hynix pada perdagangan di AS telah memberi sinyal kuat terhadap reli pasar Korea Selatan bahkan sebelum bursa dibuka.
Meski demikian, Cho mengingatkan volatilitas masih berpotensi tinggi akibat kekhawatiran perlambatan pertumbuhan laba perusahaan, penyesuaian portofolio investor asing, serta tingginya aktivitas pada ETF berleverage yang terkait saham SK Hynix dan Samsung Electronics.
Di Taiwan, indeks saham naik 2%.
Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), pemasok utama chip untuk Nvidia dan Apple, ditutup naik 0,8% setelah sempat menguat hingga 1,7%. Saham TSMC memiliki bobot sekitar 43% dalam indeks acuan Taiwan.
Baca Juga: Reli Harga Minyak Terus Berlanjut, Seiring Memburuknya Permusuhan di Timur Tengah
Sementara itu, bursa Singapura naik hingga 1,2% dan kembali mencetak rekor tertinggi untuk hari kesembilan berturut-turut, didorong oleh penguatan saham-saham perbankan. Sepanjang bulan ini, indeks saham Singapura telah menguat lebih dari 7%.
Di pasar valuta asing, mata uang Asia berkembang cenderung stabil karena dolar AS masih tertekan setelah peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini menurun.
Ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat tipis, sedangkan baht Thailand melemah 0,2%.
Won Korea Selatan sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan di 1.484,5 per dolar AS sebelum memangkas penguatannya.
Analis MUFG Lloyd Chan menilai, prospek kebijakan Bank of Korea yang lebih agresif, kinerja positif sektor semikonduktor, serta valuasi won yang relatif murah menjadi faktor yang menopang penguatan mata uang Korea Selatan dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Fender Cegah Produsen Gitar Lain Gunakan Desain Ikonik Gitar Stratocaster
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, Bank of Korea diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun pada pertemuan Kamis (16/7), dan berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Di Indonesia, indeks saham melanjutkan penguatan untuk hari kelima berturut-turut, sementara rupiah menyentuh level tertinggi dalam sepekan terhadap dolar AS.
Di sisi lain, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan BEI akan menambahkan 37 saham ke dalam daftar perusahaan dengan kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi.
Langkah tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar setelah penyedia indeks MSCI sebelumnya memberikan peringatan terkait struktur pasar modal Indonesia.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
