Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham-saham Asia dan harga emas menguat pada perdagangan Selasa (3/2/2026), seiring meredanya volatilitas setelah gejolak tajam di pasar logam.
Sentimen pasar turut membaik setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) melonjak tajam pada Januari.
Melansir Reuters, Indeks Nikkei Jepang melesat 2,5%, berhasil menutup kerugian pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Trump Klaim Meksiko Akan Hentikan Pengiriman Minyak ke Kuba
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 4%. Kontrak berjangka mengindikasikan pemulihan di pasar Hong Kong, sedangkan futures S&P 500 naik 0,3% di tengah perhatian pelaku pasar terhadap musim laporan keuangan yang padat.
Investor juga menanti rapat bank sentral Australia yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Data pasar tenaga kerja yang kuat serta inflasi kuartal IV yang lebih panas dari perkiraan membuat pasar bertaruh pada kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Saham Australia menguat 1,3% pada awal perdagangan. Sementara itu, dolar Australia yang sempat bergejolak namun mencatatkan kenaikan bulanan terbesar dalam tiga tahun pada Januari, bertahan kuat di level US$0,6958.
Harga emas dan perak melonjak tajam setelah mengalami tekanan besar dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Trump Luncurkan Cadangan Mineral Strategis US$12 Miliar untuk Hadapi Dominasi China
Harga emas naik 3% pada perdagangan Asia ke level US$4.800 per ons troi, atau pulih hampir 9% dari titik terendah pada Senin. Harga perak naik lebih tinggi, menguat 5% ke US$83,34 per ons troi.
Harga emas, perak, saham, dan dolar AS sebelumnya bergerak liar sejak Presiden AS Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve.
Warsh dipandang cenderung memperkecil neraca The Fed, yang berpotensi mendorong imbal hasil obligasi naik, kondisi yang biasanya berdampak negatif bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Namun, kejatuhan harga pada Jumat dan Senin lalu dinilai melampaui faktor fundamental.
Tekanan tersebut dipicu oleh likuidasi besar-besaran posisi leverage, yang memicu gejolak di pasar komoditas dan saham global ketika pelaku pasar melepas aset lain untuk menutup kerugian.
Baca Juga: SpaceX Akuisisi xAI dalam Transaksi Rekor, Musk Satukan Ambisi AI dan Antariksa
“Ini adalah proses pembersihan leverage yang selama ini menumpuk dalam sistem,” ujar Christopher Forbes, Head of Asia and Middle East di CMC Markets.
“Pertanyaan besarnya adalah seberapa dalam titik nyeri dari unwind emas dan perak ini. Saya tidak yakin semua pelaku pasar bisa melewatinya dengan selamat.”
Wall Street Stabil
Di AS, data menunjukkan aktivitas manufaktur tumbuh untuk pertama kalinya dalam setahun pada Januari, berdasarkan data PMI.
Kabar ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS sedikit naik, meski tidak mengubah ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga ke depan.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun stabil di level 4,275% di sesi Asia, sementara tenor dua tahun bertahan di 3,57%, setelah sempat naik empat basis poin di New York.
Baca Juga: Google Cloud dan Liberty Global Jalin Kemitraan AI Lima Tahun di Eropa
Di Wall Street, saham-saham produsen chip dan perusahaan AI mendorong S&P 500 naik 0,5%. Saham Alphabet mencetak rekor tertinggi menjelang rilis kinerja keuangan akhir pekan ini.
Sebaliknya, saham Disney anjlok 7,4% setelah perusahaan memperingatkan penurunan jumlah wisatawan internasional ke taman hiburan AS serta pelemahan laba unit televisi dan film.
Pada Selasa, AMD dan produsen perangkat server Super Micro Computer dijadwalkan merilis laporan keuangan setelah penutupan pasar.
Di pasar valuta asing, dolar AS mulai menemukan level keseimbangan setelah anjlok tajam pekan lalu. Euro diperdagangkan di US$1,18, turun dari level tertinggi di atas US$1,20 pada akhir Januari.
Yen Jepang berada di 155,54 per dolar AS, memangkas sekitar setengah penguatan sebelumnya yang dipicu spekulasi intervensi bersama AS–Jepang.
Jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat Liberal pimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi berpeluang meraih kemenangan telak dalam pemilu akhir pekan ini.
Baca Juga: Harga Bitcoin Diprediksi Anjlok ke US$ 10.000, Ini Biang Keroknya
Hal tersebut berpotensi menekan pasar obligasi dan yen karena memberi mandat politik untuk kebijakan fiskal yang lebih longgar.
Sementara itu, kesepakatan dagang AS–India yang diumumkan Trump semalam memangkas tarif sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India, dan diperkirakan akan mendukung penguatan rupee.
Di pasar energi, minyak mentah Brent ditutup melemah 6% ke level US$66,30 per barel, seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.













