Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – BEIJING. China memiliki penyangga yang semakin penting untuk menghadapi gejolak harga minyak dunia, yakni armada taksi listrik. Di tengah kenaikan harga bahan bakar akibat konflik geopolitik, penggunaan taksi dan layanan transportasi daring berbasis kendaraan listrik justru terus meningkat di berbagai kota di Negeri Tirai Bambu.
Data pemerintah China menunjukkan masyarakat melakukan 3,05 miliar perjalanan menggunakan taksi dan layanan ride-hailing pada Mei 2026. Jumlah tersebut meningkat 6% dibandingkan periode Maret hingga Mei tahun lalu, sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari.
Lonjakan penggunaan transportasi umum ini dipicu oleh fenomena unik dalam sistem transportasi China. Meski harga bensin meningkat, tarif taksi justru turun. Para analis menilai kondisi ini terjadi akibat membanjirnya pengemudi baru yang mencari pekerjaan di tengah perlambatan ekonomi, ditambah semakin murahnya kendaraan listrik.
Kombinasi tersebut menekan tarif perjalanan dan menarik lebih banyak penumpang yang ingin menghemat biaya transportasi di tengah kenaikan harga bahan bakar.
Li, seorang pengemudi transportasi daring paruh waktu di Beijing, mengatakan tarif perjalanan telah turun sekitar 10% hingga 15% sejak dirinya mulai bekerja enam bulan lalu.
"Persaingan sangat ketat," ujar pria berusia 36 tahun itu kepada Reuters di sebuah stasiun pengisian daya kendaraan listrik.
Baca Juga: Iran Ancam Tutup Jalur Pelayaran Vital Lebih Banyak setelah Blokade AS Diperketat
Dampak perubahan perilaku konsumen juga terlihat di media sosial. Sejak harga bensin mulai naik pada Maret, ratusan unggahan menyebutkan bahwa menggunakan taksi atau layanan transportasi daring kini lebih murah dibandingkan mengendarai mobil pribadi.
"Terutama ketika harga bensin tinggi, saya lebih memilih naik taksi ke tempat-tempat yang terlalu jauh untuk dijangkau dengan sepeda. Dengan begitu, saya tidak perlu mencari tempat parkir atau membayar bensin," kata Yang, pemilik mobil berbahan bakar bensin berusia 45 tahun.
Elektrifikasi armada taksi semakin memperkuat bukti bahwa sektor transportasi China kian mengurangi ketergantungannya terhadap minyak. Kondisi ini membantu negara tersebut meredam dampak guncangan pasokan energi, termasuk jika terjadi gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Kementerian Transportasi China mencatat sekitar separuh dari total 1,3 juta armada taksi di negara tersebut kini telah menggunakan tenaga listrik. Di sejumlah kota besar, proporsi kendaraan listrik bahkan mendekati 100%.
Sementara itu, Didi, platform transportasi daring terbesar di China, melaporkan telah menambahkan dua juta mobil listrik dan hybrid sepanjang tahun lalu. Dengan demikian, total armada non-bahan bakar fosil yang beroperasi di platform tersebut mencapai delapan juta unit.
Saat ini, kendaraan listrik menyumbang sekitar 75% dari total jarak tempuh seluruh armada Didi.
Baca Juga: Reli Harga Minyak Terus Berlanjut, Seiring Memburuknya Permusuhan di Timur Tengah
Perubahan besar ini berdampak langsung pada konsumsi energi. Pada Mei 2026, konsumsi bensin di China turun 10% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara penggunaan solar merosot 14%. Penurunan tersebut terjadi meskipun angkutan barang melalui jalur darat meningkat 2% dan perjalanan selama libur Hari Buruh mencetak rekor tertinggi.
Organisasi lingkungan Greenpeace memperkirakan 90% perjalanan taksi dan layanan transportasi daring di China akan sepenuhnya menggunakan kendaraan listrik pada 2035.
"Seiring kenaikan harga bahan bakar, masyarakat semakin jarang menggunakan mobil pribadi berbahan bakar bensin," kata Direktur Asia Timur Institute for Transportation & Development Policy di China, Daizong Liu.
"Namun, secara keseluruhan permintaan perjalanan tetap meningkat, sehingga lebih banyak perjalanan beralih ke transportasi umum, seperti taksi dan kereta bawah tanah," tambahnya.
Ketergantungan China terhadap Minyak Kian Menurun
Fleksibilitas sistem transportasi tersebut turut menjelaskan bagaimana China mampu memangkas impor minyak secara signifikan tanpa harus menguras cadangan strategisnya.
Impor minyak China pada Juni 2026 tercatat turun 41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Langkah tersebut secara tidak langsung membebaskan pasokan minyak di pasar global yang tengah tertekan akibat konflik geopolitik dan membantu menjaga harga minyak tetap terkendali.
Baca Juga: Cetak Kinerja Fantastis, ASML Mengerek Naik Proyeksi Pendapatan dan Laba 2026
Analis J.P. Morgan, Natasha Kaneva, menilai konflik di Timur Tengah kemungkinan mempercepat perubahan perilaku yang sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
"Konflik tersebut mungkin telah mempercepat perubahan perilaku yang sebelumnya sudah berlangsung, sehingga membuat China secara struktural menjadi lebih tidak bergantung pada minyak dibandingkan perkiraan pasar selama ini," tulis Kaneva dalam catatannya pada 2 Juli.
Meski demikian, tren tersebut masih akan diuji seiring mulai turunnya harga bahan bakar di China ke level sebelum konflik.
J.P. Morgan memperkirakan permintaan bensin China akan terus menurun pada 2027, meskipun laju penurunannya lebih lambat dibandingkan tahun ini. Bank investasi tersebut memproyeksikan konsumsi bensin turun 50.000 barel per hari pada 2027, setelah diperkirakan menyusut 150.000 barel per hari sepanjang tahun ini.
Perubahan perilaku konsumen juga tercermin dari pengalaman Zhang, pemilik mobil listrik dan hybrid berusia 45 tahun.
"Saat harga bahan bakar tinggi, saya biasanya mengendarai mobil hybrid saya menggunakan mode baterai," ujarnya.
"Ketika melihat harga bahan bakar belakangan ini turun, saya langsung mengisi penuh tangki mobil hybrid saya," tambah Zhang.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
