kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.988.000   -4.000   -0,13%
  • USD/IDR 17.017   7,00   0,04%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Imbas Konflik Timur Tengah, Harga BBM di Singapura Cetak Rekor Tertinggi


Selasa, 17 Maret 2026 / 18:56 WIB
Imbas Konflik Timur Tengah, Harga BBM di Singapura Cetak Rekor Tertinggi
ILUSTRASI. Harga BBM Singapura pecah rekor 2022 akibat konflik Timur Tengah dan ancaman Selat Hormuz. (REUTERS/Hamad I Mohammed)


Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID = JAKARTA. Harga bahan bakar minyak (BBM) di Singapura melonjak tajam hingga menembus rekor tertinggi yang sebelumnya tercatat saat krisis Ukraina pada 2022.

Kenaikan ini terjadi di tengah gejolak pasokan minyak global setelah konflik Iran yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari 2026.

Dampak konflik tersebut mulai terasa di pom bensin Singapura hanya dalam hitungan hari.

Menurut laporan The Straits Times, dikutip pada Selasa (17/3/2026), butuh sekitar tiga hari setelah perang diluncurkan pada 28 Februari sebelum dampaknya merembet ke harga BBM di Singapura.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Kelaparan Global, 45 Juta Orang Terancam

Gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah disebut menjadi pemicu utama kenaikan harga.

Situasi semakin diperparah oleh ketidakpastian terkait jalur distribusi minyak global setelah Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Singapura sendiri mengimpor seluruh kebutuhan minyak mentahnya, dengan sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Hingga kini belum jelas apakah jalur alternatif untuk pengiriman minyak telah tersedia.

Harga BBM di Singapura tembus rekor baru

Kenaikan harga BBM terlihat nyata pada pertengahan Maret 2026. Operator SPBU besar menaikkan harga secara bertahap seiring fluktuasi harga minyak global.

Caltex, misalnya, menaikkan harga bensin oktan 95 sebesar 10 sen menjadi 3,45 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.838 per liter (asumsi kurs Rp 13.286 per dollar Singapura) pada 13 Maret 2026.

Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,42 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.440 per liter yang tercatat pada Juni 2022 setelah Uni Eropa melarang impor minyak Rusia.

Harga bensin oktan 95 kini tercatat 57 sen atau sekitar Rp 7.573 lebih mahal dibandingkan sebelum serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Dengan kenaikan tersebut, pengendara harus merogoh kocek tambahan sekitar 28,50 dollar Singapura atau sekitar Rp 378.651 untuk mengisi penuh tangki kendaraan berkapasitas 50 liter, sebelum memperhitungkan diskon.

Kenaikan harga juga terjadi pada jenis bensin lain seperti oktan 92, oktan 98, serta varian premium, yang semuanya melampaui level tertinggi saat perang Ukraina.

Harga solar pun melampaui puncak 3,19 dollar Singapura atau sekitar Rp 42.381 per liter yang tercatat pada Maret 2022.

Operator SPBU menaikkan harga bahkan lebih dari sekali dalam sehari, mengikuti pergerakan harga minyak mentah yang berayun seiring perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: JP Morgan: Suku Bunga BoE Tak Turun hingga 2027 karena Inflasi Energi

Bensin oktan 95 tercatat dipasarkan di kisaran 3,40 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.413 per liter di Shell, Esso, dan Sinopec, sementara harga terendah berada di SPC sebesar 3,39 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.400 per liter.

Kekhawatiran konsumen dan dugaan “profiteering”

Lonjakan harga yang cepat memicu kekhawatiran di kalangan konsumen. Sebagian pihak menilai kenaikan tersebut terjadi terlalu cepat dibandingkan potensi penurunan stok BBM di lapangan.

“Ini perampokan terang-terangan. Ini bahkan bukan minyak baru yang tiba dari daerah yang terkena dampak perang; ini masih minyak lama," ujar seorang pengemudi taksi.

Kenaikan harga yang cepat di sisi hulu, sementara penurunan harga sering kali berlangsung lambat, menimbulkan dugaan bahwa operator SPBU mungkin memanfaatkan situasi menjelang potensi krisis pasokan.

Menurut laporan, harga BBM di Singapura tidak dikendalikan pemerintah, sehingga pergerakannya sangat bergantung pada mekanisme pasar, khususnya prinsip penawaran dan permintaan.
 
Permintaan BBM diperkirakan tetap tinggi karena sebagian besar kendaraan masih bergantung pada bensin atau solar.

Pengendara tetap harus mengisi bahan bakar untuk menunjang aktivitas harian, meski harga per liter meningkat.

Faktor penentu harga BBM

Penentuan harga BBM di Singapura dilakukan secara harian oleh pengecer dengan mempertimbangkan Mean of Platts Singapore (MOPS), yaitu rata-rata penilaian harga harian yang dipublikasikan oleh S&P Global Platts, meski data tersebut tidak tersedia untuk publik.

Baca Juga: Bank China Alihkan Kredit ke Sektor Teknologi

“Biaya minyak mentah menyumbang hampir 50 persen dari harga eceran produk minyak bumi, dan memiliki dampak jangka panjang yang paling signifikan," tulis Caltex dalam situs resminya.

Perusahaan juga menambahkan bahwa volatilitas politik di wilayah penghasil minyak secara historis memengaruhi harga minyak mentah secara global.

Selain itu, Esso menyatakan harga grosir BBM dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat persediaan, biaya penyimpanan, dan transportasi.

“Selain harga grosir, harga bensin Esso di Singapura juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti harga tanah, bea atau pajak pemerintah, nilai tukar mata uang, dan kekuatan pasar yang kompetitif,” tulis perusahaan tersebut di situsnya.

Fenomena “Rockets and Feathers”

Para ahli menilai kondisi saat ini juga mencerminkan fenomena yang dikenal sebagai “rockets and feathers”.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Robert Bacon dalam risetnya yang dipublikasikan di jurnal Energy Economics pada 1991.

Ia menemukan bahwa harga bensin cenderung naik cepat seperti roket ketika harga minyak mentah meningkat, tetapi turun perlahan seperti bulu ketika biaya minyak menurun.

“Ketika biaya meningkat, peritel bergerak cepat untuk melindungi margin keuntungan mereka. Tidak ada bisnis yang ingin menanggung kerugian," jelas Sam Chua, principal Asia Pacific advisory di Rystad Energy.

Baca Juga: Malaysia Tersingkir dari Perebutan Piala Asia Karena Turunkan Pemain Tidak Sah

Namun, ketika biaya turun, menurut dia, dorongan untuk segera menurunkan harga relatif kecil.

“Namun, ketika biaya turun, tidak ada urgensi untuk menjadi yang pertama meneruskan penghematan tersebut,”ujar Chua.

Ia menambahkan, karena permintaan BBM relatif tidak sensitif terhadap perubahan harga, operator SPBU menghadapi tekanan yang lebih kecil untuk menurunkan harga dengan cepat.

Fenomena serupa juga terjadi di Singapura saat Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022. Saat itu, harga bensin oktan 95 sempat melonjak dari kisaran 2,75 sampai 2,85 dollar Singapura atau sekitar Rp 36.537 sampai Rp 37.866 per liter menjadi 3,42 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.440 per liter.

Penurunan harga baru terjadi beberapa bulan kemudian.

Pada 19 September 2022, harga bensin oktan 95 tercatat sekitar 2,82 dollar Singapura atau sekitar Rp 37.466 per liter di sebagian besar SPBU sebelum memperhitungkan diskon.

Ketidakpastian pasokan global

Penutupan efektif Selat Hormuz turut meningkatkan ketidakpastian pasar energi. Data dari penyedia data pelayaran Kpler menunjukkan sekitar 14 juta barrel minyak telah diangkut melalui perairan tersebut hingga 11 Maret 2026 sejak konflik dimulai.

Namun angka ini masih jauh di bawah rata-rata sekitar 20 juta barrel per hari sebelum konflik.

Beberapa kapal tanker dilaporkan menemukan cara untuk melintasi jalur tersebut dengan mematikan sistem pelacakan mereka.

Selain risiko pasokan yang lebih rendah, operator SPBU juga mempertimbangkan potensi kenaikan biaya rantai pasok, termasuk premi asuransi kapal tanker.

Ketidakpastian mengenai durasi konflik Iran dan potensi eskalasi turut memengaruhi keputusan penetapan harga BBM.

Dampak ke pengemudi dan respons perusahaan taksi

Kenaikan harga BBM memberi tekanan pada pengemudi taksi dan mitra transportasi daring. Beberapa operator taksi berupaya menahan dampak dengan menyerap sebagian kenaikan biaya.

ComfortDelGro sempat menawarkan harga bensin 1,93 dollar Singapura atau sekitar Rp 25.643 per liter pada 5 Maret 2026 sebelum menaikkannya menjadi 2,31 dollar Singapura atau sekitar Rp 30.692 per liter pada 11 Maret 2026.

Perusahaan menyatakan tarif tersebut tetap lebih rendah dibandingkan harga yang dipasang SPBU umum.

Strides Premier juga menawarkan harga BBM yang lebih rendah dibandingkan sebagian besar SPBU.

“Langkah-langkah ini bertujuan untuk meringankan biaya operasional dan mendukung mata pencaharian para mitra pengemudi kami," jelas manajer bisnis penyewaan kendaraan perusahaan tersebut, Khoo Gui Ju.

Sementara itu, platform ride-hailing Grab memberikan diskon BBM melalui kemitraan dengan Caltex, Shell, dan Sinopec.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Tolak Usulan Gencatan Senjata dengan AS

CEO dan co-founder Grab Anthony Tan mengatakan perusahaannya fokus pada “memberikan bantuan sementara dan langsung, terutama melalui insentif dan rabat tambahan, untuk meredam dampak terhadap pendapatan mitra di pasar yang tidak memiliki kontrol harga”.

Ia menambahkan, bonus insentif, potongan harga, serta voucher BBM telah diterapkan di sejumlah pasar termasuk Singapura.

Grab juga tengah berdiskusi dengan pemerintah, perusahaan BBM, dan produsen kendaraan listrik untuk mencari solusi jangka panjang dalam melindungi pendapatan mitra pengemudi di tengah tekanan makroekonomi.

Insentif penurunan harga dinilai terbatas

Menurut Paul Gooden, portfolio manager di perusahaan manajemen investasi Ninety One, ada dua cara melihat situasi ini.

“Jika Anda bersikap murah hati, Anda akan mengatakan bahwa SPBU berupaya mengurangi volatilitas harga bagi konsumen,” ujarnya.

“Jika Anda bersikap tidak murah hati, Anda akan mengatakan bahwa mereka memanfaatkan situasi ini untuk menghasilkan lebih banyak uang," imbuhnya.

Chua juga menilai penurunan harga di masa depan berpotensi berjalan lambat karena pergerakan harga antar operator cenderung seragam.

“Karena harga di berbagai pengecer cenderung bergerak bersamaan, tidak ada satu pun pemain yang memiliki insentif kuat untuk menurunkan harga lebih dulu,” katanya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×