kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.915   60,00   0,34%
  • IDX 6.316   -68,83   -1,08%
  • KOMPAS100 825   -9,76   -1,17%
  • LQ45 628   -6,02   -0,95%
  • ISSI 219   -3,07   -1,38%
  • IDX30 349   -3,80   -1,08%
  • IDXHIDIV20 436   -4,18   -0,95%
  • IDX80 94   -1,00   -1,06%
  • IDXV30 120   -0,88   -0,73%
  • IDXQ30 112   -1,18   -1,04%

Bursa Asia Menguat Selasa (22/9), Saham AI Kembali Reli dan Dolar AS Makin Perkasa


Selasa, 22 September 2026 / 09:25 WIB
Bursa Asia Menguat Selasa (22/9), Saham AI Kembali Reli dan Dolar AS Makin Perkasa
ILUSTRASI. Bursa Asia - Kopsi Korea Selatan (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada Selasa (22/9/2026), didorong reli saham teknologi dan penurunan harga minyak.

Investor juga mencermati peluang pembicaraan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik lebih dari 1% pada awal perdagangan.

Baca Juga: Kesepakatan Dagang Vietnam-AS Segera Diteken

Saham Korea Selatan yang didominasi sektor teknologi melonjak hampir 2%, sedangkan saham Taiwan menguat sekitar 1,3%. Bursa Jepang tutup karena hari libur.

Di China, indeks saham unggulan naik 0,75%, sementara indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,4%. Saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) di China dan Hong Kong juga mencatat kenaikan.

Sentimen pasar turut ditopang oleh pelemahan harga minyak. Harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$100,22 per barel setelah anjlok lebih dari 3% pada sesi sebelumnya. Harga Brent bahkan sempat turun di bawah level psikologis US$100 per barel.

"Penurunan harga minyak menjadi faktor besar. Minyak merupakan penggerak utama dan investor kembali masuk ke saham AI seperti pola yang terjadi tahun ini," ujar Nick Twidale, chief market strategist ATFX Global.

Optimisme terhadap kemungkinan perundingan AS-Iran turut memperbaiki sentimen. Trump mengatakan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan berada di New York pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Penurunan harga minyak dan harapan meredanya ketegangan geopolitik juga mendorong penurunan imbal hasil obligasi AS.

Baca Juga: Korea Selatan Pilih Proyek Investasi Pertama dari Paket US$350 Miliar ke AS

Reli Saham AI

Perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Pasar mengamati peluang kedua pemimpin ekonomi terbesar dunia tersebut mencegah memburuknya hubungan AS-China.

Xi dijadwalkan tiba di Washington pada Rabu (23/9), untuk kunjungan pertamanya ke AS dalam lebih dari satu dekade. Investor berharap gencatan dagang antara kedua negara dapat diperpanjang, sekaligus membuka peluang kerja sama di bidang kecerdasan buatan.

Antusiasme terhadap AI kembali menjadi katalis pasar setelah peluncuran asisten AI Muse milik Meta mendapat respons positif.

"Antusiasme terhadap Meta Muse memperkuat gagasan bahwa jutaan orang pada akhirnya dapat menggunakan agen AI yang terus aktif," kata Chris Weston, head of research Pepperstone.

Menurut Weston, kombinasi kenaikan kepercayaan terhadap prospek permintaan CPU, penurunan harga minyak mentah, turunnya imbal hasil Treasury AS dan optimisme menjelang pertemuan AS-China menopang penguatan pasar.

Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,37%, sedangkan kontrak berjangka bursa Eropa menguat sekitar 0,3%.

Baca Juga: Peretas Korea Utara Curi Kripto US$10,7 Juta Lewat Lowongan Kerja Palsu

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Di pasar valuta asing, dolar AS masih menguat karena investor meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut dari bank sentral utama.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 100,4, mendekati level tertinggi dalam tujuh pekan.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober mencapai 56%, naik dari 43,5% sepekan sebelumnya.

The Fed menaikkan suku bunga pada pekan lalu dan menegaskan bahwa perjuangan melawan inflasi belum selesai. Pernyataan tersebut menjaga peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan pada tahun ini.

Ekspektasi tersebut turut menekan yen Jepang. Yen berada di level 157,39 per dolar AS, mendekati level terendah dalam tiga pekan.

Baca Juga: Bursa Australia Naik 0,3% Selasa (22/9), Saham Bank dan Tambang Jadi Penopang

Bank of Japan (BOJ) memang menaikkan suku bunga pada pekan lalu ke level tertinggi dalam 31 tahun.

Namun, dua suara yang berbeda dalam keputusan tersebut serta minimnya panduan hawkish membuat investor kecewa dan kembali menekan yen.

"Intervensi valuta asing tetap menjadi alat yang kurang efektif untuk menopang mata uang, dan tanpa respons kebijakan moneter yang tegas, otoritas Jepang akan kesulitan membendung pelemahan yen," ujar Matthew Ryan, head of market strategy Ebury.

Dengan kondisi tersebut, pasar kini menghadapi kombinasi sentimen positif dari reli saham teknologi dan penurunan harga minyak, tetapi tetap dibayangi prospek suku bunga global yang lebih tinggi.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×