kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.874   -26,00   -0,15%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Bursa Asia Menguat Ditopang Euforia AI Senin (1/6), Risiko AS-Iran Masih Membayangi


Senin, 01 Juni 2026 / 08:20 WIB
Bursa Asia Menguat Ditopang Euforia AI Senin (1/6), Risiko AS-Iran Masih Membayangi
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia mengawali perdagangan pekan ini dengan penguatan seiring berlanjutnya euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menopang permintaan terhadap saham-saham teknologi.

Optimisme tersebut mampu mengimbangi kekhawatiran pasar terkait belum adanya kemajuan signifikan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Baca Juga: Investasi AI China Terancam: AS Perketat Akses Pembelian Chip, Ini Detailnya!

Melansir Reuters pada Senin (1/6/2026), indeks saham Jepang Nikkei naik 0,5% setelah mencatat kenaikan hampir 5% pekan lalu dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa.

Bursa Korea Selatan menguat 1,3% setelah melonjak 8% pada pekan sebelumnya, sementara pasar saham Taiwan juga tetap perkasa setelah mencatat kenaikan hampir 6% dalam sepekan terakhir.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turut naik 0,2%.

Baca Juga: Tantang Dominasi MacBook Neo, Dell Luncurkan Laptop XPS 13 Seharga US$ 699

Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah. Meski negosiator dari Washington dan Teheran terus berupaya mencapai kesepakatan, Presiden AS Donald Trump belum memberikan sinyal jelas mengenai kemajuan pembicaraan tersebut.

Pada Sabtu (30/5), Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa AS siap melanjutkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Di saat yang sama, operasi militer Israel yang semakin dalam ke wilayah Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran turut menambah ketidakpastian kawasan.

Kepala Ekonom AS JPMorgan Michael Feroli menilai, risiko paling akut terhadap ekonomi global kemungkinan telah mereda apabila lalu lintas kapal tanker dapat kembali normal.

"Meski ketidakpastian masih ada, fase risiko paling serius bagi ekonomi global seharusnya sudah terlewati jika kapal tanker mulai kembali beroperasi," ujarnya.

Baca Juga: SoftBank Akan Bangun Pusat Data AI di Prancis dengan Investasi Jumbo

Namun demikian, menurut Feroli, kondisi pasar energi belum akan sepenuhnya kembali normal. Harga minyak diperkirakan tetap tinggi karena kebutuhan pengisian kembali persediaan serta perbaikan infrastruktur energi di Timur Tengah.

Kondisi tersebut tercermin dari harga minyak yang kembali menguat. Minyak mentah Brent naik 1,9% menjadi US$ 92,89 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 2,4% menjadi US$ 89,46 per barel.

Demam AI terus menopang pasar

Di tengah ketidakpastian geopolitik, minat investor terhadap sektor AI dan semikonduktor tetap menjadi penopang utama pasar saham global.

Perhatian investor pekan ini tertuju pada pameran teknologi Computex di Taiwan.

Baca Juga: PC Windows dengan Chip Nvidia Pertama Akan Meluncur Pekan Depan

CEO Nvidia Jensen Huang dijadwalkan membuka acara tersebut dengan pidato yang diperkirakan membahas perkembangan terbaru teknologi AI serta peran sentral Taiwan dalam rantai pasok industri semikonduktor global.

Di AS, kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,2%, sementara futures Nasdaq menguat 0,4% setelah kedua indeks mencetak rekor tertinggi pekan lalu.

Meski demikian, reli pasar saham AS dinilai masih terkonsentrasi pada sejumlah kecil perusahaan teknologi raksasa.

Sepuluh perusahaan besar yang terkait AI kini menyumbang sekitar 40% kapitalisasi indeks S&P 500. Dari 500 saham dalam indeks tersebut, hanya 21 saham yang berhasil mencetak rekor tertinggi baru.

Sepanjang Mei, sektor teknologi melonjak hampir 16%, jauh mengungguli sektor lain seperti consumer discretionary dan kesehatan yang hanya naik sekitar 2%. Sementara sektor consumer staples justru terkoreksi lebih dari 3%.

Baca Juga: Brasil Selidiki Dugaan Kasus Ebola di Sao Paulo, Pasien Baru Pulang dari Kongo

Pasar menanti data tenaga kerja AS

Di pasar obligasi, tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi masih menjadi perhatian utama. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,47%.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve hingga akhir tahun berada di kisaran 50%.

Sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka pekan ini. Selain itu, investor juga menunggu rilis data penting seperti survei manufaktur ISM dan laporan ketenagakerjaan AS untuk Mei yang akan diumumkan pada Jumat mendatang.

Ekonom memperkirakan penambahan lapangan kerja AS mencapai sekitar 85.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran tetap di level 4,3%.

Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin besar.

Di pasar valuta asing, dolar AS relatif stabil. Mata uang Jepang, Japan yen, diperdagangkan di level 159,42 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang.

Sementara euro berada di level US$ 1,1645 dan bergerak dalam rentang yang relatif sempit sepanjang pekan lalu.

Adapun harga emas cenderung stagnan di kisaran US$ 4.535 per ons troi, menunjukkan bahwa logam mulia tersebut belum banyak mendapat dukungan baik sebagai aset lindung nilai maupun sebagai pelindung terhadap inflasi.




TERBARU

[X]
×