Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Korea Selatan telah memilih proyek pertama yang akan dikejar dalam paket investasi senilai US$350 miliar ke Amerika Serikat (AS).
Proyek tersebut menjadi bagian dari kesepakatan perdagangan Seoul dan Washington yang menurunkan tarif barang Korea Selatan ke AS menjadi 15%.
Melansir Reuters Selasa (22/9/2026), Menteri Perindustrian Korea Selatan Kim Jung-kwan mengatakan, pemerintah juga akan memberikan pengarahan kepada parlemen mengenai dua proyek lain yang tengah dipertimbangkan.
Namun, Seoul belum mengambil keputusan untuk melanjutkan kedua proyek tersebut.
Baca Juga: Peretas Korea Utara Curi Kripto US$10,7 Juta Lewat Lowongan Kerja Palsu
Kim mengatakan kedua proyek itu mencerminkan kepentingan kedua negara, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pengarahan kepada parlemen menjadi salah satu tahapan penting bagi Korea Selatan dan AS untuk memfinalisasi implementasi kesepakatan perdagangan.
Sejumlah anggota parlemen menilai proses tersebut merupakan salah satu langkah terakhir sebelum kedua negara menyepakati persyaratan dan mengumumkan implementasi secara resmi.
Dalam kesepakatan perdagangan yang dicapai tahun lalu, Korea Selatan berkomitmen menanamkan investasi di sektor manufaktur AS sebagai imbalan atas penurunan tarif impor produk Korea Selatan.
Dari total komitmen US$350 miliar tersebut, sekitar US$150 miliar dialokasikan untuk sektor galangan kapal. Sementara itu, rincian investasi strategis senilai US$200 miliar lainnya masih dalam tahap finalisasi.
Baca Juga: Bursa Australia Naik 0,3% Selasa (22/9), Saham Bank dan Tambang Jadi Penopang
Sumber yang mengetahui proses negosiasi mengatakan Kementerian Perindustrian Korea Selatan akan memberikan pengarahan mengenai rencana pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas di Encinal, Texas, sebagai proyek potensial pertama dalam paket investasi tersebut.
Berdasarkan laporan media Korea Selatan, pembangkit listrik berkapasitas 6,3 gigawatt itu memiliki nilai sekitar US$22,3 miliar.
Pembangkit tersebut direncanakan memasok listrik untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dan fasilitas produksi chip.
Selain proyek pembangkit listrik gas, Seoul dan Washington juga tengah membahas pembangunan hingga delapan reaktor nuklir berukuran besar di AS.
Korea Selatan juga mengeksplorasi kemungkinan membeli saham minoritas perusahaan nuklir AS, Westinghouse. Opsi lain yang muncul adalah keterlibatan dalam proyek liquefied natural gas (LNG) Alaska yang telah lama tertunda.
Namun, sumber yang mengetahui negosiasi mengatakan belum ada kesepakatan terkait investasi di Westinghouse. Korea Selatan juga berupaya membatasi nilai investasi tahunan maksimal US$20 miliar untuk mengurangi dampaknya terhadap pasar valuta asing domestik.
Pembahasan mengenai implementasi kesepakatan ini sebelumnya tertunda. Pengarahan kepada komite perdagangan Majelis Nasional Korea Selatan yang sedianya dilakukan pekan lalu ditunda ketika negosiator kedua negara berupaya menjembatani perbedaan mengenai persyaratan investasi.
Baca Juga: Saham Apple Cetak Rekor, iPhone Duo dan Siri AI Jadi Perhatian Investor
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Jumat lalu mengatakan, kelayakan komersial menjadi salah satu persoalan utama ketika negosiasi bergeser dari kesepakatan umum menuju rincian masing-masing proyek.
Menurut Lee, Seoul berupaya memastikan kesepakatan tersebut mencantumkan prinsip investasi yang "commercially reasonable" atau layak secara komersial.
Hal ini berkaitan dengan pertanyaan mengenai tingkat pengembalian investasi, pembagian keuntungan, hingga mekanisme penanganan kerugian apabila proyek yang dibiayai tidak menghasilkan keuntungan.
Kelompok oposisi di parlemen Korea Selatan meminta pengawasan yang lebih ketat. Mereka memperingatkan potensi risiko finansial yang tidak proporsional bagi Seoul, terutama dalam investasi proyek energi.
Ketua komite perdagangan Kim Sung-won juga mengatakan kekhawatiran meningkat terkait persyaratan investasi di sektor nuklir dan pembangkitan listrik.
Baca Juga: Indeks KOSPI Reli, Naik Hampir 2% di Pagi Ini (22/9): Asing Net Buy
Penundaan lebih lanjut dalam implementasi kesepakatan berpotensi kembali memicu ketegangan antara Seoul dan Washington.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk Korea Selatan karena menilai implementasi kesepakatan berjalan terlalu lambat.
Lee saat ini telah berada di AS untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam kunjungannya, Lee juga berupaya melakukan pertemuan dengan Trump dan sejumlah pemimpin negara lainnya.














