kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Bursa Asia Menguat Tipis Senin (21/9), Rupiah Tertekan Jelang Keputusan Suku Bunga BI


Senin, 21 September 2026 / 15:56 WIB
Bursa Asia Menguat Tipis Senin (21/9), Rupiah Tertekan Jelang Keputusan Suku Bunga BI
ILUSTRASI. Bursa Asia - Kopsi Korea Selatan (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (21/9/2026), di tengah perhatian investor terhadap pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan ini.

Pasar menantikan hasil pertemuan Trump dan Xi di Washington pada 24 September untuk mencari sinyal mengenai keberlanjutan gencatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Investor juga mencermati potensi meredanya ketegangan perdagangan dan geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir membayangi pasar.

Baca Juga: Hanya 17 Kapal Lewati Selat Hormuz, Distribusi Minyak Dunia Terancam

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, investor masih berharap hubungan perdagangan AS-China tetap stabil.

“Investor secara hati-hati berharap gencatan perdagangan saat ini dapat dipertahankan. Hasil yang konstruktif dapat memberikan dukungan lebih lanjut bagi pasar Asia, sementara kembali meningkatnya ketegangan perdagangan dapat membebani sentimen,” kata Lukman dilansiir dari Reuters.

Saham teknologi menjadi salah satu penopang utama bursa Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan sempat menguat 1,9% ke level tertinggi sejak 10 September 2026.

Penguatan saham Korea Selatan juga ditopang data ekspor. Nilai ekspor Korea Selatan dalam 20 hari pertama September melonjak ke rekor tertinggi, terutama didorong kuatnya permintaan semikonduktor.

Bursa Taiwan juga menguat lebih dari 1% dan menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga bulan.

Penguatan tersebut sekaligus memperpanjang kenaikan indeks menjadi empat sesi perdagangan berturut-turut.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat ke US$14.577 Senin (21/9), Permintaan China Jadi Penopang

Minat investor terhadap saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor kembali meningkat setelah saham perusahaan teknologi AS menguat.

Permintaan teknologi yang masih relatif kuat turut memperkuat optimisme terhadap sektor chip di kawasan Asia Utara.

Di tengah penguatan bursa saham Asia, rupiah justru kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Indonesia tersebut melemah hingga 0,6% dan menyentuh level terendah dalam satu bulan.

Meski telah menguat lebih dari 2% dari rekor terendah yang dicapai pada Juni 2026, rupiah masih menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia sepanjang tahun ini.

Pelaku pasar kini menanti keputusan Bank Indonesia (BI) pada Rabu (23/9/2026), terutama untuk melihat arah kebijakan suku bunga ke depan.

Baca Juga: ASX Rombak Manajemen, Percepat Transformasi Teknologi Bursa Australia

BI menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pergantian kepemimpinan BI juga masih menjadi perhatian pasar. Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI pada Juli lalu sempat memicu kekhawatiran investor.

Namun, penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai gubernur baru sekaligus perempuan pertama yang memimpin bank sentral dinilai membantu meredakan kekhawatiran pasar.

Lukman menilai rupiah menjadi pengecualian di tengah sentimen positif di sejumlah pasar Asia. Tekanan terhadap rupiah terjadi karena pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan ini.

“Rupiah menjadi pengecualian karena masih berada di bawah tekanan saat pelaku pasar memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuannya pekan ini. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global dan ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama,” ujar Lukman.

Ekspektasi suku bunga global tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah karena membuat aset berbasis dolar AS tetap relatif menarik bagi investor.

Baca Juga: Kasus Gagal Bayar Reksadana Guncang Turki, Ini yang Dilakukan Otoritas Pasar Modal

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama bergerak stabil pada Senin.

Sebelumnya, indeks tersebut menguat lebih dari 1% pada pekan lalu setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan.

Sementara itu, pasar saham Vietnam mencatat katalis tersendiri setelah FTSE Russell menambahkan saham Vietnam ke dalam indeks pasar negara berkembang pada Senin.

Langkah tersebut menjadi tonggak bagi pasar modal Vietnam setelah bertahun-tahun melakukan reformasi untuk meningkatkan daya tarik bagi investor asing.

Indeks saham Vietnam sempat menguat hingga 0,8% pada perdagangan Senin.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×