Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan global bergerak bergejolak pada Rabu (4/11/2026), seiring hasil awal pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan peluang Partai Demokrat merebut kendali Senat dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.
Kontrak berjangka saham AS melemah, sementara harga obligasi pemerintah AS atau Treasury menguat dan dolar AS terkoreksi. Investor mencermati dampak perubahan komposisi kekuasaan di Washington terhadap kebijakan fiskal, belanja pemerintah, serta regulasi sejumlah sektor ekonomi.
Di North Carolina, mantan Gubernur Roy Cooper berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik Michael Whatley yang didukung Trump. Berdasarkan proyeksi media, kemenangan tersebut membuat Demokrat berhasil merebut satu kursi Senat yang sebelumnya dikuasai Partai Republik.
Demokrat juga berhasil mempertahankan kursi Senat melalui kemenangan Jon Ossoff di Georgia. Partai Demokrat diperkirakan memiliki peluang besar merebut kendali House of Representatives (DPR AS), sementara persaingan di Senat masih berlangsung ketat di sejumlah negara bagian.
Baca Juga: Harga Emas Naik Seiring Pelemahan Dolar, Investor Menanti Hasil Pemilu Paruh Waktu AS
Investor terus mencermati hasil pemilu untuk memperkirakan perubahan keseimbangan kekuasaan di Washington.
"Pasar tampaknya mulai memperhitungkan kemungkinan kemenangan Partai Demokrat yang lebih besar dari perkiraan, yang berpotensi mengurangi ekspektasi terhadap stimulus fiskal tambahan," ujar Charu Chanana, kepala strategi investasi Saxo di Singapura.
Pasar prediksi juga menunjukkan peningkatan ekspektasi terhadap kemenangan Demokrat di Kongres AS. Lebih dari US$ 1,48 miliar telah dipertaruhkan dalam pemilihan paruh waktu tersebut, yang menjadi ujian baru bagi perkembangan pasar prediksi.
Kontrak berjangka saham AS dan Treasury bergerak melemah
Kontrak berjangka indeks S&P 500 tercatat turun 0,8%, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq melemah lebih dalam sebesar 1,8%.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun 6 basis poin menjadi 4,906%. Penurunan imbal hasil mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah AS.
Hasil pemilu AS berpotensi memberikan dampak luas terhadap sejumlah sektor yang sensitif terhadap kebijakan pemerintah, termasuk investasi pusat data dan kecerdasan buatan (AI), prospek fiskal AS, belanja pertahanan, serta regulasi sektor kesehatan, perbankan, dan mata uang kripto.
Chanana menilai penurunan kontrak berjangka Nasdaq yang lebih tajam mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan meningkatnya pengawasan regulasi terhadap AI dan perusahaan teknologi besar atau Big Tech.
Kekhawatiran tersebut muncul ketika investor mulai mempertanyakan tingginya valuasi saham teknologi serta peningkatan belanja AI.
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Sejumlah Rudal Pada Uji Coba Senjata Keempat Dalam Sebulan
"Namun, penurunan imbal hasil Treasury pada akhirnya dapat memberikan sedikit kelegaan, sehingga aksi jual awal belum tentu akan berlanjut," kata Chanana.
Dolar AS melemah terhadap mata uang utama
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama.
Euro menguat 0,4% menjadi US$ 1,1239, sedangkan pound sterling naik 0,37% menjadi US$ 1,3464.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama, turun 0,32% menjadi 101,39.
Pergerakan tersebut terjadi ketika investor mempertimbangkan kemungkinan perubahan kebijakan ekonomi AS seiring hasil pemilu yang berpotensi mengubah komposisi kekuasaan di Kongres.
Bursa Asia melemah meski AMD mencatat kinerja positif
Di kawasan Asia, sejumlah indeks saham berbalik melemah setelah sebelumnya mencatat kenaikan. Investor cenderung mengabaikan kinerja positif perusahaan semikonduktor Advanced Micro Devices (AMD), yang sempat meredakan kekhawatiran mengenai keberlanjutan tren investasi AI.
AMD melaporkan kinerja kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Hasil tersebut menjadi penyeimbang terhadap kekhawatiran bahwa lonjakan investasi AI mulai kehilangan momentum, terutama setelah pesaingnya, Intel, menyampaikan prospek bisnis yang lemah pada pekan sebelumnya.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,5%.
Baca Juga: Negosiasi Iran-AS Mandek, Trump Siap Tempur tetapi Tak Ingin Perang Besar
Indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,6%, sedangkan Nikkei Jepang turun 3% setelah kembali diperdagangkan usai libur.
Harga minyak bergerak fluktuatif di tengah ketegangan geopolitik
Di pasar komoditas, harga minyak bergerak fluktuatif pada Rabu (4/11/2026), setelah sebelumnya merosot ke level terendah dalam empat pekan.
Investor mempertimbangkan perkembangan negosiasi untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Iran, di tengah kekhawatiran bahwa serangan terbaru dalam kedua konflik tersebut dapat semakin mengganggu pasokan energi global.
Blokade efektif di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar global, telah mengubah arus perdagangan energi dunia.
Sebelum terganggu, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak global.
Gangguan di jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mengubah prospek kebijakan suku bunga global, sehingga menjadi salah satu faktor utama yang terus dicermati investor di pasar keuangan internasional.














