Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Bursa saham Inggris bergerak melemah pada perdagangan Rabu (19/8/2026), setelah investor mencermati data inflasi terbaru yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Tekanan juga datang dari sejumlah saham korporasi, termasuk Smith+Nephew yang anjlok setelah mengumumkan pergantian direktur keuangannya.
Indeks saham unggulan FTSE 100 turun 0,1% menjadi 10.711,52 poin pada pukul 09.26 GMT (16:26 WIB). Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi menengah FTSE 250 melemah 0,3% ke level 24.483,70 poin.
Data Office for National Statistics (ONS) menunjukkan inflasi Inggris meningkat menjadi 2,9% pada Juli 2026. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2026 dan naik dari 2,6% pada Juni yang menjadi level terendah dalam 15 bulan.
Kenaikan inflasi terutama mencerminkan lonjakan batas harga energi rumah tangga yang ditetapkan regulator energi Inggris, Ofgem.
Data inflasi tersebut dirilis sehari setelah laporan pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan kondisi yang lebih lemah. Kombinasi kedua data tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank of England (BoE).
Baca Juga: Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Tiga Pekan, Pasar Cemas Selat Hormuz
Pasar kini memperkirakan peluang BoE mempertahankan suku bunga pada September mencapai 82%, meningkat dari sekitar 75% sehari sebelumnya.
Saham Smith+Nephew Tertekan
Pergerakan negatif juga terlihat pada saham Smith+Nephew. Saham perusahaan produk medis tersebut turun 3,38% setelah perusahaan mengumumkan direktur keuangan John Rogers akan mengundurkan diri pada akhir September.
Rogers disebut akan mengambil posisi eksternal di Amerika Serikat setelah sekitar dua setengah tahun menjabat sebagai direktur keuangan Smith+Nephew.
Pergantian tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah perusahaan memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya, sehingga menambah tekanan terhadap saham perusahaan.
Harga Minyak Naik Empat Hari Beruntun
Di pasar komoditas, harga minyak mentah melanjutkan kenaikan untuk hari keempat berturut-turut. Investor mencermati sinyal yang berlawanan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz dan apakah jalur strategis tersebut tetap terbuka bagi kapal.
Kenaikan harga minyak turut menopang saham perusahaan energi besar di Inggris. Saham Shell naik 0,7%, sedangkan BP menguat 1,1%.
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Ketidakpastian mengenai kelancaran pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Imbal Hasil Obligasi Global Masih Tinggi
Sementara itu, imbal hasil obligasi global bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kekhawatiran mengenai meningkatnya utang pemerintah di berbagai negara mendorong biaya pinjaman lebih tinggi dan kembali menekan pasar saham global.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Petunjuk Suku Bunga The Fed
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena kenaikan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mengurangi daya tarik aset berisiko seperti saham.
Saham Trainline Anjlok 15,4%
Tekanan terbesar di antara sejumlah saham Inggris datang dari Trainline. Saham perusahaan tersebut merosot 15,4% setelah regulator persaingan Inggris melakukan penyelidikan terhadap Trainline, Virgin Atlantic, dan RED Driving School.
Penyelidikan tersebut berkaitan dengan dugaan kurangnya transparansi dalam pengungkapan harga total yang harus dibayar pelanggan ketika melakukan pemesanan.
Di kelompok saham berkapitalisasi menengah, Ithaca Energy justru melonjak 15,8%. Kenaikan terjadi setelah perusahaan produsen minyak dan gas tersebut menaikkan proyeksi dividennya untuk 2026.
Sementara itu, saham IG Group turun 2,7% setelah broker UBS memangkas target harga saham perusahaan dari 2.200 pence menjadi 1.700 pence.
Pergerakan saham Inggris pada Rabu menunjukkan investor masih mencermati kombinasi antara tekanan inflasi, prospek suku bunga, perkembangan harga energi, serta risiko utang pemerintah global. Data inflasi yang kembali meningkat berpotensi membuat ruang bagi BoE untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi lebih terbatas dalam waktu dekat.













