kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Tiga Pekan, Pasar Cemas Selat Hormuz


Rabu, 19 Agustus 2026 / 17:15 WIB
Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Tiga Pekan, Pasar Cemas Selat Hormuz
ILUSTRASI. Kenaikan harga minyak didorong ketidakpastian aktivitas pelayaran di Selat Hormuz serta gangguan pasokan yang masih berlangsung.? (REUTERS/Oscar Martinez)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia menguat ke level tertinggi dalam tiga pekan pada Rabu (19/8/2026). Kenaikan harga minyak didorong ketidakpastian aktivitas pelayaran di Selat Hormuz serta gangguan pasokan yang masih berlangsung.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 77 sen atau 0,85% menjadi US$91,79 per barel pada pukul 09.48 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 85 sen atau 1% menjadi US$85,79 per barel.

Harga Brent tersebut merupakan level tertinggi sejak 30 Juli, sedangkan WTI mencapai posisi tertinggi sejak 31 Juli.

Analis pasar utama KCM Tim Waterer mengatakan, pelaku pasar masih memiliki tingkat keyakinan yang rendah terhadap keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz.

"Keyakinan terhadap keamanan jalur pelayaran masih rendah, dengan volume pengiriman yang tetap jauh di bawah tingkat normal. Ketidakpastian yang terus berlanjut ini membuat premi risiko geopolitik tetap tertanam dalam harga minyak," kata Waterer.

Baca Juga: Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Petunjuk Suku Bunga The Fed

Ketidakpastian Selat Hormuz Tekan Pasar Minyak

Perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar energi global. Selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8/2026) mengatakan tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz terbuka. Pernyataan tersebut bertentangan dengan Iran yang menyatakan bahwa jalur perairan tersebut masih ditutup.

Kesepakatan gencatan senjata sementara juga berakhir pada Senin (17/8/2026). Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya bergerak menuju kondisi yang lebih sulit akibat kebuntuan diplomatik, meskipun tidak ada laporan mengenai serangan dari kedua pihak pada Selasa.

Strategis riset perusahaan pialang Pepperstone, Ahmad Assiri, mengatakan aktivitas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz masih menghadapi gangguan besar karena belum ada kesepakatan mengenai aturan lalu lintas maritim.

"Pengiriman komersial melalui Hormuz terus menghadapi gangguan hampir total, sementara ketidaksepakatan masih berlangsung mengenai kondisi yang mengatur lalu lintas maritim," ujar Assiri.

Baca Juga: Bagi Cuan Ke Pemegang Saham, SK Hynix Menyiapkan Program Buyback Saham

Data pada Rabu menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali melambat. Sebagian besar pemilik kapal memilih menghindari jalur tersebut karena ketidakpastian terkait keamanan dan operasional pelayaran.

Assiri menambahkan, pergerakan harga Brent yang telah menembus US$91 per barel menunjukkan bahwa investor mulai memasukkan premi risiko yang lebih tinggi ke dalam harga minyak.

Menurut dia, harga minyak berpotensi kembali menembus level US$100 per barel apabila gangguan pasokan dan ketidakpastian geopolitik semakin meningkat.

Irak Siapkan Jalur Ekspor Minyak Alternatif

Di tengah ketidakpastian di Selat Hormuz, pemerintah Irak mengambil langkah untuk menjaga kelancaran ekspor minyak mentah.

Kabinet Irak menyetujui mekanisme ekspor minyak mentah melalui perusahaan internasional dan lokal khusus serta menggunakan sejumlah jalur ekspor.

Kontrak berdasarkan mekanisme baru tersebut akan berlaku selama tiga bulan mulai 1 September 2026, berdasarkan pernyataan pemerintah setelah rapat kabinet.

Langkah tersebut menunjukkan upaya negara-negara produsen minyak untuk mengurangi dampak gangguan terhadap jalur pelayaran utama dan menjaga kesinambungan pasokan ke pasar global.

Baca Juga: Samsung Naikkan Harga Jasa Chip hingga 15% di Tengah Lonjakan Permintaan AI

Persediaan Minyak AS Menjadi Perhatian

Selain perkembangan geopolitik dan gangguan pelayaran, pasar juga mencermati kondisi persediaan minyak Amerika Serikat.

Persediaan minyak mentah dan produk distilat AS dilaporkan turun pada pekan lalu. Namun, stok bensin meningkat berdasarkan data dari American Petroleum Institute (API), menurut sumber pasar.

Data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 10.30 waktu AS atau 14.30 GMT.

Analis yang disurvei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 600.000 barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus 2026.

Perkembangan stok minyak AS tersebut menjadi salah satu faktor yang akan menentukan arah harga minyak selanjutnya. Penurunan persediaan yang lebih besar dari perkiraan dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga, terutama ketika pasar masih menghadapi risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pelayaran di Selat Hormuz.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×