kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45959,76   16,42   1.74%
  • EMAS945.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 0.64%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Cetak penurunan paling tajam sejak April 2020, harga minyak terjun bebas di pekan ini


Sabtu, 27 November 2021 / 13:15 WIB
Cetak penurunan paling tajam sejak April 2020, harga minyak terjun bebas di pekan ini

Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kekhawatiran terkait varian virus corona (Covid-19) baru dan potensi surplus pasokan di kuartal pertama tahun depan membuat harga minyak ambles dan cetak penurunan paling tajam sejak April 2020.

Jumat (26/11), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Januari 2021 turun US$ 9,50 atau 11,6% ke US$ 72,72 per barel. Ini membuat Brent ambles lebih dari 8% di pekan ini.

Setali tiga uang, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$ 10,24 atau 13,1%, ke US$ 68,15 per barel. Alhasil, WTI tumbang 10,4% pada minggu ini dalam perdagangan volume tinggi setelah liburan Thanksgiving pada Kamis (25/11) di pasar Amerika Serikat.

Kedua kontrak minyak ini turun ke minggu kelima dan penurunan paling tajam mereka secara absolut sejak April 2020, ketika WTI berubah negatif untuk pertama kalinya di tengah kelebihan pasokan yang disebabkan oleh virus corona.

Baca Juga: Harga minyak terjun hampir 10% karena varian Covid dan pelepasan cadangan

Minyak turun bersamaan dengan pasar ekuitas global di tengah kekhawatiran varian Covid-19 anyar, yang dikhawatirkan bisa meredam pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan varian baru, yang diberi nama Omicron, sebagai "perhatian," menurut menteri kesehatan Afrika Selatan.

AS, Kanada, Inggris, Guatemala, dan negara-negara Eropa termasuk di antara mereka yang membatasi perjalanan dari Afrika selatan, tempat varian itu terdeteksi.

"Pasar mempertimbangkan situasi skenario terburuk di mana varian ini menyebabkan kehancuran permintaan besar-besaran," kata Bob Yawger, Director of Energy Futures di Mizuho.

Berita tentang varian tersebut menyebabkan keributan di pasar yang sebelumnya terjebak antara negara produsen dan konsumen.

"Ketakutan terbesar adalah bahwa itu akan resisten terhadap vaksin dan menjadi kemunduran besar bagi negara-negara yang telah menuai manfaat dari peluncuran mereka," tambah Craig Erlam, Analis Pasar Senior OANDA.

OPEC+ juga memantau perkembangan seputar varian tersebut, sumber mengatakan pada hari Jumat, dengan beberapa mengungkapkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat memperburuk prospek pasar minyak kurang dari seminggu sebelum pertemuan untuk menetapkan kebijakan.

Para ilmuwan sejauh ini hanya mendeteksi varian Omicron dalam jumlah yang relatif kecil, terutama di Afrika Selatan tetapi juga di Botswana, Hong Kong dan Israel. Tetapi mereka khawatir dengan jumlah mutasi yang tinggi yang dapat membuatnya kebal terhadap vaksin dan lebih mudah menular.

Pembuat obat Pfizer dan BioNTech mengatakan jika perlu mereka akan dapat mendesain ulang suntikan mereka dalam waktu 6 minggu dan mengirimkan batch awal dalam waktu 100 hari.

Kementerian luar negeri Afrika Selatan mengatakan akan berbicara dengan Inggris untuk mencoba mempertimbangkan kembali larangan perjalanannya.

Baca Juga: Wall Street ambruk, ketakutan varian baru Covid-19 jadi pemberat

"Kekhawatiran langsung kami adalah kerusakan yang akan ditimbulkan keputusan ini terhadap industri pariwisata dan bisnis kedua negara," kata Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Naledi Pandor dalam sebuah pernyataan.

Harga minyak naik di awal minggu karena OPEC+ menyarankan untuk mengurangi produksi sebagai tanggapan atas rencana rilis cadangan minyak strategis dari negara-negara konsumen besar yang menjadi anggota International Energy Agency.

Pelepasan cadangan minyak seperti itu kemungkinan akan membengkakkan pasokan dalam beberapa bulan mendatang, kata sumber OPEC, berdasarkan temuan panel ahli yang memberi nasihat kepada para menteri OPEC.

Prakiraan tersebut mengaburkan prospek pertemuan 2 Desember ketika kelompok tersebut akan membahas apakah akan menyesuaikan rencananya untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari pada Januari dan seterusnya.

"Penilaian awal OPEC tentang pelepasan (penimbunan) terkoordinasi dan kemunculan tiba-tiba varian baru virus corona menimbulkan kekhawatiran serius tentang pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan minyak dalam beberapa bulan mendatang," kata analis PVM Tamas Varga.

Selanjutnya: Takut Menjadi Wanita Mandiri? Bisa Jadi Mengalami Cinderela Complex




TERBARU

[X]
×